kawankitanews.web.id– Pengamat sosial Jacob Ereste menyoroti fenomena yang disebut sebagai “Operasi Kodok” dan menilai kondisi tersebut membuat situasi politik nasional semakin mengkhawatirkan.
Ia menyampaikan bahwa indikasi kemunculan ratusan buzzer di media sosial menjadi salah satu tanda meningkatnya intensitas pergerakan opini publik yang dinilai tidak sehat. Menurutnya, fenomena tersebut berpotensi memperkeruh suasana dan memperlebar jarak antar kelompok masyarakat.
Istilah “Operasi Kodok” sebelumnya diungkap oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang menggambarkan adanya pola pergerakan tidak stabil, termasuk perubahan sikap sejumlah pihak yang berpindah posisi secara cepat dalam dinamika politik.
“Fenomena ini patut diwaspadai karena dapat mengaburkan persoalan utama yang dihadapi masyarakat, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan,” ujar Jacob dalam keterangannya, Selasa (27/4/2026).
Ia menilai, pola “lompatan” sikap yang terjadi di ruang publik menunjukkan adanya kemungkinan pengaruh kepentingan tertentu. Kondisi ini, lanjutnya, dapat memicu kebingungan publik sekaligus memperkuat polarisasi.
Jacob juga meminta pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Digital, untuk lebih aktif menjaga ruang digital agar tetap kondusif. Ia menekankan pentingnya pengawasan terhadap arus informasi yang beredar di masyarakat.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa situasi politik yang tidak terkendali dapat berdampak pada melemahnya nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Semua pihak perlu menjaga ketenangan dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu benar,” tegasnya.
Jacob berharap pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga stabilitas sosial serta memperkuat persatuan di tengah dinamika politik yang terus berkembang.(Kontribusi banten yacob)

