kawankitanews.web.id — Pengamat sosial Jacob Ereste menilai media sosial saat ini berkembang menjadi arena adu narasi yang semakin intens, terutama di tengah meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Jacob menyebut, kondisi ekonomi yang belum stabil mendorong masyarakat lebih rentan terhadap berbagai informasi yang beredar di ruang digital.
Ia menilai situasi tersebut membuat opini publik mudah terbentuk dan berubah dalam waktu singkat melalui pengaruh narasi yang masif di media sosial.
Ia menjelaskan bahwa berbagai kelompok kepentingan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pandangan dan opini mereka secara cepat.
Menurutnya, pola tersebut membentuk ruang kompetisi informasi yang dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap berbagai isu sosial, ekonomi, maupun politik.
Jacob juga menegaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dalam menerima informasi di tengah derasnya arus konten digital.
Ia mendorong publik untuk melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi yang beredar.
Selain itu, ia menilai tekanan ekonomi dapat memperlemah daya kritis sebagian masyarakat terhadap informasi yang diterima.
Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengarahkan opini publik.
Sejumlah pengamat komunikasi digital juga menilai bahwa media sosial telah menjadi ruang strategis dalam pembentukan persepsi publik.
Mereka menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam polarisasi opini.
Jacob menambahkan bahwa stabilitas sosial sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam menjaga keseimbangan informasi di ruang publik digital.
Ia mengingatkan bahwa adu narasi yang tidak terkendali dapat mengganggu kohesi sosial dan kepercayaan publik.
Para pengamat mengimbau agar masyarakat lebih aktif menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum jelas sumbernya, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung.(Kontributor banten yacob)
Keterangan Foto
Aktivitas media sosial yang menjadi ruang adu narasi di tengah tekanan ekonomi dan dinamika opini publik.

