9 Agustus 2026

MPLS 2026 Jadi Momentum Tanamkan Integritas, Dindik Jatim Catat Rekor MURI

Keterangan foto: Dindik Jatim mencatat Rekor MURI melalui penyuluhan antikorupsi digital dalam MPLS 2026.

kawankitanews.web.id – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Dindik Jatim) memanfaatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 sebagai momentum untuk menanamkan nilai integritas dan antikorupsi kepada peserta didik sejak dini.

Melalui kegiatan Penyuluhan Antikorupsi Digital, Dindik Jatim melibatkan sekitar 300 ribu pelajar SMA, SMK, dan SLB di 4.060 satuan pendidikan.

Kegiatan yang berlangsung secara luring dan daring tersebut mengantarkan Dindik Jatim mencatat Rekor MURI dalam kategori Penyuluhan Antikorupsi Digital dengan jumlah peserta terbanyak.

Dindik Jatim menjadikan capaian tersebut sebagai bagian dari komitmen untuk membangun ekosistem pendidikan yang berintegritas dan berkarakter.

Pembukaan MPLS Nasional dipimpin Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Di Jawa Timur, kegiatan berpusat di SMKN 2 Singosari, Kabupaten Malang, dan dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Jatim Imam Hidayat serta Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai.

Sekretaris Jenderal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Cahya Hardianto Harefa turut memberikan penguatan nilai antikorupsi kepada para peserta melalui siaran daring.

Kehadiran KPK memperkuat pesan pentingnya membangun karakter jujur dan bertanggung jawab sejak peserta didik memasuki lingkungan sekolah.

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menegaskan bahwa Rekor MURI tersebut bukan sekadar pencapaian seremonial.

Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi wujud nyata komitmen Jawa Timur dalam membangun pendidikan yang berkualitas sekaligus menjunjung tinggi nilai integritas.

“Ini merupakan inisiasi bagi kami untuk mewujudkan pendidikan berintegritas. Pendidikan kejujuran harus dimulai dari lingkungan sekolah, bahkan dari hal-hal yang paling sederhana,” ujar Aries.

Aries menjelaskan bahwa MPLS menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai antikorupsi kepada peserta didik baru.

Ia berharap para pelajar dapat memahami pentingnya kejujuran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Korupsi mencederai prinsip-prinsip integritas. Karena itu, sejak hari pertama MPLS kami mengenalkan nilai kejujuran kepada para murid,” katanya.

Dindik Jatim tidak hanya menghadirkan Sekjen KPK sebagai narasumber. Dindik juga melibatkan Penyuluh Antikorupsi (PAK) Jawa Timur dan guru-guru yang telah mengikuti pelatihan penguatan integritas.

Para narasumber memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya membangun budaya antikorupsi melalui kebiasaan sederhana.

Sekolah juga diharapkan terus mendorong peserta didik untuk menerapkan nilai kejujuran dalam proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, Aries Agung Paewai memimpin pembacaan Deklarasi Gema Integritas.

Melalui deklarasi itu, insan pendidikan Jawa Timur menyatakan komitmen untuk menjunjung tinggi kejujuran dan menolak segala bentuk kecurangan.

Deklarasi tersebut juga mendorong insan pendidikan menjadikan budaya integritas sebagai fondasi utama dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter.

Selain itu, seluruh pihak diajak memperkuat semangat saling menghargai, bekerja sama, dan memberikan pelayanan terbaik demi mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Sementara itu, Sekjen KPK Cahya Hardianto Harefa mengapresiasi langkah Dindik Jatim yang memasukkan penyuluhan antikorupsi ke dalam rangkaian MPLS.

“Kami menyambut baik penyuluhan antikorupsi di Jawa Timur untuk menumbuhkan kejujuran dan membentuk sikap tanggung jawab siswa sejak jenjang SMA, SMK, dan SLB,” ujar Cahya.

Menurut Cahya, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang jujur, mandiri, bertanggung jawab, disiplin, adil, peduli, sederhana, berani, dan pekerja keras.

Ia menegaskan bahwa integritas tidak terbentuk secara instan. Peserta didik perlu membangun integritas melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,

seperti datang tepat waktu, menjaga amanah, tidak menyontek saat ujian, berani mengakui kesalahan, dan menjaga fasilitas sekolah.

Cahya juga mengingatkan bahwa perilaku koruptif dapat berawal dari kebiasaan tidak jujur yang dilakukan sejak dini. Karena itu, pendidikan antikorupsi perlu terus diberikan agar peserta didik terbiasa menjunjung tinggi kejujuran dalam berbagai situasi.

Melalui kegiatan Penyuluhan Antikorupsi Digital, Dindik Jatim berupaya membangun kesadaran peserta didik mengenai pentingnya integritas.

Kegiatan yang melibatkan sekitar 300 ribu pelajar tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan antikorupsi dapat menjangkau peserta didik dalam skala luas melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi digital.

Dindik Jatim berharap Rekor MURI tersebut tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian, tetapi menjadi pemicu untuk memperkuat pendidikan karakter dan integritas di seluruh satuan pendidikan di Jawa Timur.

Dengan melibatkan sekolah, keluarga, pemerintah, dan lembaga terkait, Dindik Jatim terus mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya memiliki prestasi akademik,

tetapi juga menjunjung tinggi kejujuran, memiliki rasa tanggung jawab, dan berani menolak segala bentuk kecurangan.(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *