Marak Buzzer dan Narasi Konflik, “Operasi Kodok” Picu Kekhawatiran Publik

Marak buzzer dan narasi konflik, “Operasi Kodok” picu kekhawatiran publik di ruang digital.
Marak buzzer dan narasi konflik, “Operasi Kodok” picu kekhawatiran publik di ruang digital.

kawankitanews.web.id — Meningkatnya aktivitas buzzer di ruang digital memicu kekhawatiran publik terhadap kualitas komunikasi politik nasional. Sejumlah pihak menilai penyebaran narasi konflik yang masif di media sosial telah memperkeruh suasana menjelang tahun politik.(27/04/26)

Pemimpin spiritual Sri Eko Sriyanto Galgendu menyoroti fenomena yang disebut sebagai “Operasi Kodok” sebagai bentuk pola komunikasi yang dinilai tidak sehat. Ia menilai pola tersebut mendorong perpecahan opini di tengah masyarakat melalui penyebaran narasi yang saling bertentangan.

Menurutnya, maraknya akun anonim dan jaringan buzzer memperkuat dugaan adanya upaya sistematis dalam membentuk persepsi publik. Ia menyebut kondisi ini berpotensi mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan utama yang sedang dihadapi bangsa.

Sri Eko Sriyanto Galgendu juga menilai bahwa ruang digital saat ini telah menjadi arena utama pertarungan opini politik. Ia melihat intensitas konflik narasi yang tinggi berpotensi menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat jika tidak segera diantisipasi.

Ia kemudian mendorong pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas di media sosial. Ia menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

Sejumlah pengamat komunikasi publik juga menilai, peningkatan narasi konflik di ruang digital menunjukkan lemahnya ekosistem informasi yang sehat. Mereka menilai algoritma media sosial turut mempercepat penyebaran konten provokatif yang memperbesar potensi gesekan sosial.

Dalam situasi tersebut, Sri Eko Sriyanto Galgendu mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi. Ia menegaskan pentingnya menjaga kejernihan berpikir agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas kebenarannya.

Ia juga mengingatkan bahwa perpecahan di ruang digital dapat berdampak langsung pada kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, ia mendorong semua pihak untuk mengedepankan dialog yang sehat dan bertanggung jawab dalam menyikapi perbedaan pandangan.

Hingga saat ini, isu “Operasi Kodok” masih menjadi perbincangan luas dan terus memicu diskusi publik terkait dinamika politik serta etika komunikasi di ruang digital.(Kontributor banten yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *