Kawankitanews.web.id — Jacob Ereste menegaskan bahwa gelar dan jabatan tidak otomatis menjadi ukuran kualitas seseorang. Ia menilai kualitas seseorang justru terlihat dari karya, kemampuan, sikap, serta manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Pandangan tersebut Jacob sampaikan dalam tulisannya berjudul “Materialisme dan Spiritualisme Dalam Tradisi dan Budaya Suku Bangsa Nusantara Yang Telah Menjadi Indonesia” yang ditulis di Banten, 29 Juli 2026.
Menurut Jacob, masyarakat dapat menguji kualitas seseorang melalui hasil nyata yang bisa dirasakan dan digunakan oleh orang lain. Karena itu, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan gelar akademik, gelar adat, maupun gelar keagamaan untuk menunjukkan kapasitas dirinya.
Gelar Membawa Tanggung Jawab
Jacob menilai seseorang yang menyandang gelar besar harus mampu menunjukkan kualitas sesuai dengan tanggung jawab yang melekat pada gelar tersebut.
Ia mencontohkan gelar profesor yang semestinya mencerminkan kapasitas keilmuan, kontribusi, serta kualitas pemikiran pemiliknya. Menurut Jacob, pemilik gelar tinggi perlu menunjukkan sikap rendah hati dan menghindari perilaku arogan.
Ia menilai sikap ugahari dan rendah hati justru menunjukkan kematangan seseorang dalam menggunakan pengetahuan maupun kedudukannya.
Sebaliknya, Jacob mengingatkan bahwa seseorang dapat kehilangan wibawa ketika menggunakan gelar hanya untuk membangun citra atau menunjukkan status sosial tanpa menunjukkan kemampuan yang sepadan.
Kritik Budaya Pamer Gelar
Jacob juga menyoroti kebiasaan sebagian orang yang mencantumkan banyak gelar di depan atau di belakang nama.
Menurutnya, penggunaan berbagai gelar memang sah apabila seseorang memperoleh dan memiliki hak untuk menyandangnya. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan gelar sebagai alat untuk membangun citra diri secara berlebihan.
Jacob menilai seseorang seharusnya membuktikan kapasitas melalui karya dan perilaku. Dengan demikian, masyarakat dapat menilai kualitas seseorang secara objektif berdasarkan apa yang telah ia lakukan.
Ia menggunakan perumpamaan telepon genggam untuk menjelaskan hubungan antara kualitas perangkat dan kemampuan pengguna.
Menurut Jacob, telepon genggam dengan spesifikasi tinggi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila penggunanya tidak memiliki kemampuan mengoperasikannya. Begitu pula seseorang yang memiliki gelar tinggi tetap perlu menunjukkan kemampuan dalam menggunakan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya.
Tradisi Nusantara Beri Pelajaran
Jacob kemudian mengaitkan persoalan gelar dengan tradisi dan budaya berbagai suku bangsa Nusantara.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Nusantara memiliki banyak sebutan atau gelar adat yang diberikan oleh keluarga maupun lingkungan sosial. Gelar tersebut umumnya tidak muncul karena permintaan orang yang bersangkutan, tetapi diberikan sebagai bentuk penghormatan.
Jacob mencontohkan sejumlah sebutan dalam tradisi masyarakat Lampung, seperti Daing, Batin, Kiyai, dan Minak. Ia menilai sebutan tersebut memiliki konteks budaya dan adat yang melekat pada lingkungan masyarakat tertentu.
Ia juga menyinggung tradisi masyarakat Jawa yang menggunakan sebutan seperti Mas dan Romo. Berbagai panggilan kekeluargaan di sejumlah daerah, menurut Jacob, dapat menciptakan suasana sosial yang lebih akrab dan hangat.
Menurutnya, tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat dahulu memiliki cara tersendiri untuk memberikan penghormatan tanpa menjadikan gelar sebagai alat untuk menunjukkan keunggulan pribadi.
Materialisme Mengancam Nilai Budaya
Jacob menilai perkembangan materialisme dapat menggeser nilai-nilai tersebut. Ia mengkhawatirkan masyarakat semakin menilai seseorang berdasarkan kekayaan, jabatan, gelar, dan penampilan.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat kehidupan sosial kehilangan nilai etika, moral, budi pekerti, dan spiritualitas.
Jacob menyebut fenomena itu sebagai “kemarau budaya” yang perlu mendapat perhatian bersama. Ia mendorong masyarakat kembali menggali nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur Nusantara.
Menurut Jacob, masyarakat perlu membangun keseimbangan antara pencapaian material dan kualitas batin. Kemajuan ekonomi dan pendidikan, menurutnya, harus berjalan bersama dengan penguatan moral dan spiritualitas.
Rendah Hati Jadi Cermin Kualitas
Jacob menekankan bahwa rendah hati tidak berarti seseorang harus mengabaikan kemampuan atau prestasi yang dimilikinya. Sikap tersebut justru menunjukkan kemampuan seseorang dalam menempatkan diri secara proporsional.
Ia mendorong para pemilik gelar dan pejabat untuk menunjukkan kualitas melalui tindakan nyata, bukan sekadar melalui simbol status.
Menurut Jacob, masyarakat akan menilai seseorang dari kontribusinya. Gelar dan jabatan hanya menjadi bagian dari identitas, sedangkan kualitas seseorang terlihat dari bagaimana ia menggunakan ilmu, kewenangan, dan kesempatan untuk memberikan manfaat.
Jacob berharap generasi muda Indonesia tidak terjebak dalam budaya mengejar status dan pengakuan. Ia mengajak generasi penerus untuk membangun karakter, memperkuat pengetahuan, menjaga etika, serta menghidupkan kembali nilai spiritual dalam kehidupan.
Dengan demikian, gelar dan jabatan tidak berhenti sebagai simbol kebanggaan, tetapi menjadi amanah yang mendorong seseorang memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.(Kontributor Yacob)

