9 Agustus 2026

Abdur Rahman El Syarif Dorong Rekonstruksi Kepemimpinan NU Berbasis Maslahah Peradaban

Keterangan foto: Abdur Rahman El Syarif menyampaikan gagasan rekonstruksi kepemimpinan NU berbasis maslahah peradaban menuju Muktamar ke-35 NU.

kawankitanews.web.id  – Pemerhati sosial keagamaan Abdur Rahman El Syarif mendorong rekonstruksi kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) yang berorientasi pada maslahah atau kemaslahatan peradaban.

Gagasan tersebut ia sampaikan melalui tulisannya yang berjudul Melampaui Ontologi: Kepemimpinan NU sebagai Ikhtiar Mewujudkan Maslahah Peradaban, sebagai tanggapan atas artikel Prof. Dr. Suhermanto Ja’far mengenai rekonstruksi ontologi kepemimpinan NU.

Dalam tulisannya, Abdur Rahman mengapresiasi upaya Prof. Suhermanto Ja’far yang mengangkat pembahasan kepemimpinan NU dari sekadar tipologi menuju fondasi ontologis.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuka ruang refleksi yang lebih mendalam mengenai hakikat kepemimpinan di tengah perubahan global yang dipengaruhi perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan fenomena technopolarity.

Namun, Abdur Rahman menilai rekonstruksi ontologi kepemimpinan NU perlu dilengkapi dengan orientasi yang lebih mendasar, yakni kemaslahatan.

Ia menegaskan bahwa NU tidak hanya tumbuh dari tradisi filsafat, tetapi juga berakar kuat pada khazanah fiqih, tasawuf, hikmah, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang telah diwariskan para ulama selama berabad-abad.

Menurutnya, kepemimpinan dalam tradisi NU bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menjaga agama, menghadirkan keadilan, melindungi masyarakat,

serta mewujudkan kemaslahatan umat. Karena itu, konsep maslahah harus menjadi orientasi utama dalam membangun kepemimpinan organisasi memasuki abad kedua.

Abdur Rahman menjelaskan bahwa pembahasan mengenai ontologi kepemimpinan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai bagaimana seorang pemimpin hadir di tengah perubahan zaman.

Lebih dari itu, kepemimpinan harus menjawab tujuan keberadaannya, yakni menghadirkan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan NU selama hampir satu abad bukan semata karena kemampuannya mengikuti perkembangan zaman, melainkan karena kemampuannya menjaga keseimbangan antara perubahan dan kemaslahatan.

Menurutnya, nilai tersebut telah menjadi karakter dasar yang diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama.

Dalam tulisannya, Abdur Rahman memperkenalkan gagasan mengenai pemimpin NU sebagai orkestrator peradaban.

Menurutnya, pemimpin tidak boleh diposisikan sebagai pusat dari seluruh perubahan, melainkan sebagai penghubung dan penggerak yang mampu mengharmoniskan seluruh potensi yang dimiliki NU,

mulai dari pesantren, badan otonom, lembaga, para kiai, kalangan akademisi, profesional, kaum muda, perempuan, hingga masyarakat luas.

Ia menilai konsep tersebut lebih sesuai dengan tradisi NU yang menjunjung tinggi nilai kerendahan hati, kebersamaan, dan kolektivitas dalam menjalankan amanah organisasi.

Abdur Rahman juga menegaskan bahwa kepemimpinan NU membutuhkan perpaduan tiga karakter utama, yakni kepemimpinan inklusif, kepemimpinan integratif, dan kepemimpinan akademik-kebangsaan.

Menurutnya, ketiga karakter tersebut bukanlah konsep yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu mengorkestrasi seluruh potensi organisasi menuju kemaslahatan bersama.

Ia menambahkan bahwa tipologi kepemimpinan menjelaskan kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin, ontologi menjelaskan cara seorang pemimpin hadir, sedangkan maslahah menjadi arah sekaligus tujuan yang hendak diwujudkan melalui seluruh proses kepemimpinan tersebut.

Menjelang Muktamar ke-35 NU, Abdur Rahman memandang momentum tersebut bukan sekadar agenda memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tetapi juga menjadi kesempatan strategis untuk menentukan arah kepemimpinan NU memasuki abad kedua.

Menurutnya, NU diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perubahan global, tetapi juga mampu memberikan arah bagi perubahan tersebut dengan tetap berpijak pada tradisi keilmuan,

“adab, hikmah, tasawuf, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan demikian, kepemimpinan NU diharapkan mampu menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi umat, bangsa, kemanusiaan, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.(Geng)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *