Kawankitanews.web.id Surabaya – Kepergian H. M. Sholeh, S.H., Wakil Pengasuh PP Singa Putih Munfaridin, meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan di Jawa Timur. Sosok yang dikenal aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan itu dikenang bukan hanya karena kiprahnya di tengah masyarakat, tetapi juga karena kemampuannya menjaga persaudaraan di atas segala perbedaan.
Rasa kehilangan turut disampaikan keluarga besar Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur. Ketua MAKI Jatim, Heru Satriyo, S.I.P., menyampaikan belasungkawa atas wafatnya sahabat yang menurutnya telah memberikan banyak pelajaran tentang arti menghargai perbedaan.
Heru menuturkan, hubungan persahabatannya dengan almarhum telah terjalin selama bertahun-tahun. Dalam perjalanan itu, keduanya tidak selalu berada pada posisi yang sama. Ada kalanya mereka sejalan dalam menyikapi persoalan, namun tidak jarang pula memiliki pandangan yang bertolak belakang terhadap isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Meski demikian, perbedaan tersebut tidak pernah merusak hubungan baik yang telah dibangun. Justru sikap saling menghormati menjadi fondasi yang membuat persahabatan mereka tetap terjaga hingga akhir hayat almarhum.
“Kita pernah berjalan bersama, pernah juga berbeda pandangan, bahkan sempat menjadi perhatian publik. Namun persahabatan tidak pernah putus. Itulah yang saya kenang dari Cak Soleh,” ujar Heru.
Bagi Heru, H. M. Sholeh merupakan pribadi yang mampu memisahkan perbedaan pendapat dengan hubungan kemanusiaan. Sikap itulah yang dinilainya semakin langka di tengah dinamika sosial yang kerap memunculkan polarisasi.
Ia juga mengisahkan pengalaman yang menurutnya sangat membekas. Pada dini hari sekitar pukul 01.25 WIB, Heru mengaku tiba-tiba terbangun dan tidak dapat melanjutkan tidur. Dalam kondisi tersebut, sosok almarhum sempat terlintas di benaknya, meski saat itu ia belum mengetahui kabar duka yang akan datang.
Peristiwa itu baru terasa memiliki makna setelah dirinya menerima informasi bahwa H. M. Sholeh telah berpulang. Meski disampaikan sebagai pengalaman pribadi, kenangan tersebut menjadi bagian dari ungkapan kehilangan seorang sahabat yang telah lama dikenalnya.
Heru menilai wafatnya H. M. Sholeh menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara. Karena itu, perbedaan pandangan maupun dinamika yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat seharusnya tidak menjadi alasan untuk memutus tali silaturahmi.
Menurutnya, almarhum adalah pribadi yang selalu membuka ruang komunikasi, menghormati siapa pun, serta menjaga hubungan baik meskipun berada dalam posisi yang berbeda.
Atas nama keluarga besar MAKI Jawa Timur, Heru mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan almarhum agar mendapatkan ampunan, rahmat, serta tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat yang mulia di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini,” doa Heru.
Kepergian H. M. Sholeh menjadi kehilangan bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat yang mengenalnya. Namun nilai-nilai yang selama ini ditunjukkannya—menjaga silaturahmi, menghormati perbedaan, dan mengedepankan persaudaraan—diharapkan tetap hidup dan menjadi teladan bagi generasi mendatang. (Red)

