kawanindonesia.web.id– Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, menekankan pentingnya peran orang tua dalam melindungi anak dari berbagai risiko yang muncul di era digital.
Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama dan utama yang dapat memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.
Arumi menyampaikan hal tersebut saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi” yang berlangsung di Surabaya, Minggu (7/6/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi perempuan, tenaga pendidik, komunitas, serta pegiat perlindungan anak di Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Arumi mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital yang sangat cepat telah mengubah cara anak-anak belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi. Namun, di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, dunia digital juga menghadirkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
“Perkembangan teknologi bergerak sangat cepat. Karena itu, orang tua tidak boleh hanya memberikan akses teknologi kepada anak, tetapi juga harus hadir untuk mendampingi dan mengawasi penggunaannya,” ujarnya.
Arumi menjelaskan bahwa anak-anak saat ini tumbuh sebagai generasi digital yang sangat akrab dengan teknologi. Mereka mampu memahami berbagai aplikasi dan perangkat digital dengan cepat. Kondisi tersebut membuat peran orang tua semakin penting untuk memberikan arahan dan membangun kebiasaan digital yang sehat.
Ia juga menyoroti tingginya penggunaan perangkat digital oleh anak-anak Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sebagian besar anak usia dini telah mengenal dan menggunakan telepon seluler serta internet sejak usia sangat muda.
Menurut Arumi, fakta tersebut menjadi peringatan bagi orang tua agar lebih aktif melakukan pendampingan. Ia menilai pengawasan yang tepat dapat membantu anak menghindari dampak negatif penggunaan teknologi yang berlebihan.
Selain itu, Arumi mengungkapkan bahwa penggunaan gadget dalam waktu yang terlalu lama dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental anak. Dampak yang mungkin muncul antara lain gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, menurunnya kemampuan bersosialisasi, hingga munculnya masalah emosional akibat kurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Ia juga mengingatkan berbagai ancaman yang mengintai anak-anak di ruang digital, seperti perundungan siber, penipuan daring, paparan konten negatif, serta penyalahgunaan data pribadi.
Karena itu, Arumi mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, menetapkan batasan penggunaan gadget, serta menjadi contoh dalam penggunaan teknologi yang bijak. Menurutnya, pendekatan tersebut akan membantu anak memahami manfaat dan risiko teknologi secara seimbang.
Dalam kegiatan yang sama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menegaskan bahwa literasi digital menjadi salah satu kunci utama dalam perlindungan anak di era digital. Ia mengajak keluarga untuk membekali anak dengan kemampuan berpikir kritis, menjaga keamanan diri, dan bertanggung jawab dalam beraktivitas di dunia maya.
Menutup sambutannya, Arumi mengajak keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak. Ia berharap seluruh pihak dapat bersama-sama memastikan teknologi menjadi sarana yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka tumbuh dengan aman, sehat, dan bahagia di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak maju,” pungkasnya.(Red)

