Getaran Spiritual dan Rasa Syukur, Fondasi Toleransi Antar Sesama Manusia

Keterangan foto: Jacob Ereste menegaskan pentingnya kesadaran spiritual dan rasa syukur sebagai fondasi toleransi, tenggang rasa, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

kawankitanews.web.id– Getaran spiritual yang tumbuh dari kesadaran diri dan rasa syukur dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun toleransi serta menjaga hubungan harmonis antar sesama manusia.

Pandangan tersebut disampaikan pengamat sosial dan budaya,

Jacob Ereste, yang menekankan bahwa kehidupan modern membutuhkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.

Menurut Jacob Ereste, kesadaran spiritual berperan besar dalam membentuk karakter manusia yang lebih bijaksana,

rendah hati, dan menghargai keberadaan orang lain. Kesadaran tersebut lahir dari kemampuan seseorang untuk merenungkan kehidupan serta menyadari bahwa berbagai nikmat yang diperoleh merupakan karunia Tuhan.

“Rasa syukur yang tumbuh dari kesadaran spiritual mampu menekan sikap egoistis, keserakahan, dan kesombongan. Dari situlah lahir penghormatan terhadap sesama manusia tanpa memandang perbedaan yang ada,” ujar Jacob Ereste dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa manusia yang memiliki kesadaran spiritual cenderung lebih mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan sosial.

Mereka tidak mudah terjebak dalam ambisi berlebihan yang dapat merugikan orang lain,

baik dalam bentuk kekuasaan, materi, maupun kepentingan duniawi lainnya.

Jacob menilai rasa syukur tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas karunia Tuhan, tetapi juga menjadi jalan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dengan rasa syukur yang kuat, seseorang akan lebih mudah membangun hubungan yang harmonis dan mengedepankan sikap tenggang rasa dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa spiritualitas tidak boleh dipahami sebatas ritual keagamaan.

Spiritualitas harus tercermin dalam perilaku nyata yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kejujuran, kasih sayang, dan penghormatan terhadap hak-hak orang lain.

“Laku spiritual yang sejati tidak hanya mendekatkan manusia kepada Tuhan, tetapi juga menjauhkan manusia dari sifat iri hati,

kemunafikan, kesombongan, dan berbagai perilaku yang merugikan sesama,” katanya.

Menurut Jacob, perkembangan zaman yang semakin cepat sering kali mendorong manusia untuk lebih mengutamakan pencapaian material.

Karena itu, penguatan kesadaran spiritual menjadi kebutuhan penting agar masyarakat tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar kehidupan bersama.

Ia menambahkan bahwa bangsa Indonesia yang hidup dalam keberagaman membutuhkan semangat toleransi yang kuat.

Toleransi tersebut dapat tumbuh apabila masyarakat memiliki kesadaran spiritual yang baik dan mampu melihat sesama manusia sebagai bagian dari keluarga besar kemanusiaan.

Jacob berharap masyarakat terus mengasah kepekaan batin melalui refleksi, rasa syukur, dan pengendalian diri.

Dengan demikian, nilai-nilai tenggang rasa, persaudaraan, dan toleransi dapat terus berkembang di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.

“Getaran spiritual yang terjaga akan membimbing manusia untuk hidup lebih arif, menghargai perbedaan,

serta menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *