Umat Buddha Gelar Pindapata dan Doa Lintas Agama di Waisak Nasional 2570 Kemayoran untuk Perdamaian Bangsa

Umat Buddha menggelar Pindapata dan doa lintas agama di Waisak Nasional 2570 Kemayoran untuk perdamaian bangsa.
Umat Buddha menggelar Pindapata dan doa lintas agama di Waisak Nasional 2570 Kemayoran untuk perdamaian bangsa.

kawankitanews.web.id — Umat Buddha menggelar rangkaian peringatan Trisuci Waisak Nasional 2570 BE/2026 di kawasan Kemayoran dengan menghadirkan tradisi Pindapata dan doa lintas agama sebagai wujud komitmen memperkuat perdamaian bangsa.

Sangha Theravada Indonesia memimpin langsung penyelenggaraan kegiatan yang diikuti ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia. Panitia mengangkat tema “Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih Bagi Negeri” untuk menegaskan pentingnya nilai kebajikan, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.

Dalam pelaksanaan Pindapata, para Bhikkhu berjalan menerima persembahan dari umat sebagai bentuk latihan spiritual dan penguatan nilai hidup sederhana. Umat Buddha kemudian mengikuti rangkaian doa lintas agama yang berlangsung secara bergantian, melibatkan perwakilan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Para tokoh agama bersama umat memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa Indonesia serta memperkuat harmoni antar umat beragama.

Kegiatan ini juga menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Menteri Agama RI Nazaruddin Umar hadir langsung dan berinteraksi dengan umat di lokasi acara.

Ia mengapresiasi pelaksanaan Waisak yang mengedepankan nilai toleransi dan kebersamaan lintas iman.

Dalam kesempatan yang sama, Sri Eko Sriyanto Galgendu membacakan doa khusus dari “Kitab MA HA IS MA YA” yang berisi refleksi spiritual tentang pengabdian dan keteladanan almarhum Bhikkhu Jinna dha mo Mahathera.

Ia menekankan bahwa doa menjadi sarana untuk mengingat kebaikan dan nilai kemanusiaan seseorang tanpa batas agama maupun identitas.

Ketua Sangha Theravada Indonesia, Bhikkhu Subha panno Mahathera,

menegaskan bahwa tradisi Pinda pata merupakan warisan luhur sejak masa Buddha Gautama yang terus dijaga sebagai simbol kedisiplinan spiritual dan kepedulian sosial.

Rangkaian peringatan Trisuci Waisak 2570 di Kemayoran ini dihadiri sekitar 20 ribu umat Buddha.

Acara kemudian ditutup dengan santap bersama sebagai simbol persaudaraan dan penguatan harmoni antar umat beragama di Indonesia.(Kontributor banten yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *