kawankitanews.web.id – Jurnalis dan penulis Rokimdakas menegaskan transformasi pendidikan menjadi kunci utama dalam menghadapi perubahan peradaban yang dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurutnya, sistem pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Pandangan tersebut disampaikan Rokimdakas melalui esainya yang membahas pentingnya membaca arah perkembangan zaman agar pendidikan tidak tertinggal dari perubahan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Rokimdakas menjelaskan bahwa selama ini banyak masyarakat memilih jurusan pendidikan berdasarkan tren dan peluang kerja yang sedang berkembang.
Namun, ia menilai pendekatan tersebut tidak lagi cukup karena perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat dan terus mengubah struktur profesi di berbagai sektor.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar memilih jurusan yang tepat, melainkan memahami ke mana arah peradaban bergerak,” tulis Rokimdakas.
Ia mengungkapkan bahwa setiap revolusi dalam sejarah, mulai dari revolusi pertanian, revolusi industri,
hingga revolusi informasi, selalu melahirkan jenis pekerjaan baru sekaligus mengurangi relevansi profesi lama. Kini, dunia memasuki era AI, robotika, otomatisasi, bioteknologi, dan ekonomi digital yang kembali mengubah kebutuhan sumber daya manusia.
Karena itu, Rokimdakas menilai lembaga pendidikan harus mampu membaca kebutuhan lima hingga dua puluh tahun ke depan. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada penciptaan tenaga kerja, tetapi harus membentuk manusia yang mampu terus belajar, berpikir kritis, beradaptasi, dan menciptakan solusi.
Ia juga menyoroti langkah Pemerintah China yang melakukan penyesuaian besar terhadap program studi di perguruan tinggi dengan membuka berbagai jurusan baru yang berkaitan dengan AI, robotika, dan teknologi masa depan.
Kebijakan tersebut dinilai menunjukkan pentingnya menyelaraskan pendidikan dengan perkembangan peradaban.
Meski demikian, Rokimdakas mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar mengikuti tren teknologi.
Ia menilai teknologi akan terus berubah, sehingga perguruan tinggi perlu memperkuat fondasi ilmu pengetahuan sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan belajar sepanjang hayat.
Menurutnya, perkembangan AI memang mulai mengambil alih sejumlah pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif. Namun, kemampuan manusia dalam berpikir kritis, berimajinasi, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan berdasarkan nilai dan etika tetap tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Rokimdakas juga menilai perubahan kurikulum sering kali tertinggal dibanding laju perkembangan teknologi.
Kondisi tersebut menyebabkan lulusan memasuki dunia kerja dengan kompetensi yang tidak selalu sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Oleh sebab itu, ia mengajak pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, serta seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan transformasi pendidikan secara menyeluruh.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan masa depan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang memperoleh pekerjaan, tetapi juga dari kemampuan mereka menghadapi profesi baru yang terus bermunculan seiring perkembangan zaman.
Rokimdakas menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi ruang untuk membentuk karakter, memperkuat daya pikir, dan menumbuhkan kemampuan beradaptasi.
Dengan cara itu, generasi muda Indonesia akan mampu menghadapi perubahan peradaban sekaligus berkontribusi dalam menciptakan inovasi bagi kemajuan bangsa.
“Pada akhirnya, yang perlu disiapkan bukan hanya lulusan untuk pasar kerja hari ini, melainkan manusia yang mampu hidup dan berkarya dalam peradaban yang terus berubah,” tegas Rokimdakas.(Geng)

