8 Agustus 2026

Festival Gombloh Bukan Hanya di Radio Hadir di Surabaya, Angkat Karya dan Semangat Kebangsaan Sang Maestro

Festival Gombloh Bukan Hanya di Radio di Surabaya menghadirkan pameran, pertunjukan seni, dan reuni Lemon Tree's sebagai penghormatan kepada maestro musik Gombloh.

kawankitanews.web.id – Komunitas Memories of Gombloh (Mogers) menghadirkan Festival “Gombloh Bukan Hanya di Radio” sebagai bentuk penghormatan terhadap maestro musik Indonesia, Gombloh.

Festival yang berlangsung pada 7–9 Juli 2026 di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, itu mengangkat kembali karya, pemikiran, serta semangat kebangsaan yang diwariskan sang musisi legendaris.

Panitia menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam festival tersebut, mulai dari pameran foto dokumentasi perjalanan hidup Gombloh bertajuk Sasana Shanti Antropologi, pertunjukan musik, live performance, hingga diskusi budaya.

Seluruh rangkaian acara dirancang untuk memperkenalkan kembali sosok Gombloh kepada generasi muda sekaligus mengajak masyarakat mengenang kontribusinya bagi dunia musik Indonesia.

Ketua Panitia, Esthi Susanti Hudiono, mengatakan festival ini menjadi bentuk apresiasi terhadap Gombloh yang selama hidupnya konsisten melahirkan karya-karya yang sarat pesan sosial, kemanusiaan, dan nasionalisme.

“Gombloh layak terus dikenang karena lagu-lagunya tidak hanya berbicara tentang kehidupan pribadi, tetapi juga menyentuh persoalan bangsa, lingkungan, kehidupan sosial, hingga hubungan manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai itu tetap relevan hingga sekarang,” ujarnya.

Menurut Esthi, karya-karya Gombloh memiliki kekuatan untuk membangun karakter masyarakat sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Salah satu lagu yang paling dikenal, Kebyar-Kebyar, bahkan kerap disebut masyarakat sebagai lagu nasional kedua setelah Indonesia Raya karena mampu membangkitkan semangat kebangsaan.

Ketua Mogers, Affandy Willy Yusuf, menjelaskan bahwa tema “Gombloh Bukan Hanya di Radio” dipilih untuk menggambarkan besarnya pengaruh Gombloh yang melampaui dunia musik.

“Gombloh tidak hanya dikenal melalui lagu-lagunya. Ia juga hadir di tengah masyarakat, melakukan kerja-kerja kemanusiaan,

membaur dengan berbagai kalangan, dan selalu menanamkan semangat cinta Indonesia dalam setiap langkah hidupnya,” katanya.

Salah satu agenda utama festival ialah pameran foto Sasana Shanti Antropologi yang menampilkan puluhan dokumentasi perjalanan hidup Gombloh,

mulai dari aktivitas berkesenian, kehidupan sehari-hari, hingga prosesi pemakamannya pada 9 Januari 1988.

Penulis buku Gombloh: Revolusi Cinta dari Surabaya, Guruh Dimas Nugraha, menjelaskan bahwa nama pameran diambil dari lagu Gombloh berjudul sama yang menggambarkan imajinasi tentang kehidupan manusia di masa depan.

“Lagu itu bercerita tentang sebuah museum yang menyimpan berbagai peninggalan, termasuk fosil manusia.

Melalui pameran ini, kami ingin menunjukkan bahwa karya Gombloh akan tetap hidup dan menjadi warisan budaya yang terus dikenang,” ungkapnya.

Selain pameran, festival menghadirkan momen bersejarah melalui reuni Lemon Tree’s anno ’69, grup musik yang pernah menjadi bagian penting perjalanan karier Gombloh.

Band tersebut kembali tampil setelah vakum selama 38 tahun sejak Gombloh wafat pada 1988.

Formasi reuni menghadirkan Soelih Estopangestie sebagai vokalis bersama Ratih Sumarsono, Pardi Artin, Totok Afiat, dan Mamat Bahasuan.

Mereka membawakan lagu-lagu Gombloh dari masa idealismenya ketika masih bergabung dengan label Golden Hand Records.

“Sudah 38 tahun kami tidak tampil bersama. Saat kembali memainkan lagu-lagu Gombloh, kami merasa sangat terharu karena selalu mengenangnya sebagai sahabat sekaligus musisi yang luar biasa,” kata Soelih.

Festival juga menghadirkan berbagai seniman dan komunitas budaya, di antaranya Ludruk Luntas, Seketastakula, Sekaring Jagad, Max Baihaqi, Cep Ocim, Simpang Musim, Yuli Zedeng,

Laily & Family, Jumadi Candu Aksara Grobogan, Indrie & Untung, Esthi Susanti Hudiono, serta Arul Lamandau.

Tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, Mogers juga memanfaatkan momentum festival untuk mengusulkan kepada Pemerintah Kota Surabaya agar mengganti nama Gedung Balai Budaya di Balai Pemuda menjadi Gedung Lokaseni Gombloh.

Supervisor kepanitiaan, Heri Lentho, mengatakan usulan tersebut didasarkan pada sejarah panjang Gombloh yang pernah berproses kreatif di Balai Budaya ketika bergabung dengan Bengkel Muda Surabaya.

“Sudah saatnya Surabaya memberikan penghormatan kepada Gombloh sebagai salah satu ikon seni dan budaya yang telah mengharumkan nama kota ini melalui karya-karyanya,” ujarnya.

Panitia berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang mengenang sosok Gombloh, tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan kembali nilai-nilai nasionalisme,

kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia yang selama ini selalu hadir dalam setiap karya sang maestro.

Festival Gombloh Bukan Hanya di Radio mendapat dukungan dari berbagai komunitas dan lembaga, di antaranya JatiSwara, KPJ Siwalankerto, Galeri Merah Putih,

Rumah Balada Indonesia Banten, Harian Disway, Suara Merdeka Surabaya, Kispi, Budi Karya Sejahtera, serta sejumlah pegiat seni dan budaya lainnya.(Geng)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *