Sri Eko Galgendu dan Sultan Saladin Soroti Kondisi Rupiah dalam Diskusi GMRI

Sri Eko Sriyanto Galgendu dan Sultan Saladin saat berdiskusi dalam pertemuan rutin Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia di Pecenongan, Jakarta.

kawankitanews.web.id //

Pertemuan rutin Kamis-Senin yang digelar Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia di kawasan Pecenongan, Kamis (21/5/2026), berlangsung hangat dengan pembahasan berbagai isu nasional. Dalam diskusi tersebut, Sri Eko Sriyanto Galgendu dan Sultan Saladin menyoroti kondisi rupiah yang terus tertekan akibat menguatnya dolar Amerika Serikat.

Diskusi informal itu juga dihadiri permaisuri dari Kesultanan Kanoman Cirebon. Para peserta membahas dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat akibat melemahnya nilai tukar rupiah, terutama terhadap harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli warga.

Sultan Saladin menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, pemerintah harus memperluas lapangan kerja agar perputaran uang di masyarakat tetap berjalan dan ekonomi rakyat tidak semakin tertekan.

“Kalau masyarakat bekerja dan uang terus beredar, ekonomi akan tetap bergerak,” ujar Sultan Saladin dalam diskusi tersebut.

Pendapat itu mendapat dukungan dari Sri Eko Sriyanto Galgendu. Ia menilai kebijakan yang terlalu banyak menetapkan hari libur justru dapat memperlambat aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurut Sri Eko, produktivitas masyarakat menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global. Ia mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi yang melemah akan berdampak langsung terhadap perputaran uang di masyarakat.

Selain membahas ekonomi, forum GMRI juga menyinggung persoalan fasilitas publik dan proyek transportasi nasional, termasuk tingginya beban pembayaran utang proyek kereta cepat. Peserta diskusi menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi anggaran pemeliharaan sarana transportasi umum.

Mereka juga menyoroti pentingnya pengawasan maksimal terhadap sistem transportasi nasional agar berbagai insiden kecelakaan dapat dicegah sejak dini.

Dalam kesempatan itu, Sultan Saladin turut membagikan pengalamannya saat melakukan perjalanan touring motor hingga wilayah perbatasan Vietnam dan China. Ia membandingkan kualitas infrastruktur Vietnam yang dinilainya lebih baik karena minim jalan rusak sepanjang perjalanan.

Diskusi kemudian berkembang pada persoalan spiritualitas dan kepemimpinan nasional. Sultan Saladin menegaskan spiritualitas bukan praktik klenik, melainkan proses pembelajaran dan pembentukan karakter manusia.

Sementara itu, Sri Eko menilai Indonesia membutuhkan pemimpin yang bijaksana, terbuka terhadap kritik, serta mampu memahami aspirasi rakyat dari berbagai lapisan masyarakat.

Pertemuan yang berlangsung lebih dari tiga jam itu akhirnya ditutup dengan pembahasan ringan mengenai persoalan sosial masyarakat, termasuk tingginya biaya hidup dan beban ekonomi keluarga.

Diskusi rutin GMRI tersebut kembali menjadi ruang bertukar pandangan lintas tokoh mengenai kondisi ekonomi, sosial, dan arah kepemimpinan bangsa Indonesia.(Kontributor banten yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *