kawankitanews.web.id – Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur terus memperkuat inovasi pembelajaran melalui Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan). Program ini mengintegrasikan pendidikan dengan praktik ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan kosong dan area yang belum produktif di lingkungan sekolah.
Program SIKAP menjadi salah satu langkah strategis Dindik Jatim untuk membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan hidup, karakter, dan jiwa kewirausahaan. Melalui program tersebut, sekolah mengembangkan berbagai kegiatan di bidang pertanian, perikanan, peternakan, hingga pengolahan hasil pangan sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.
Meski Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi meluncurkan Program SIKAP pada Januari 2026, sejumlah sekolah telah lebih dahulu menerapkannya sejak akhir 2025 melalui proyek percontohan. Keberhasilan implementasi di berbagai sekolah kemudian mendorong Dindik Jatim memperluas pelaksanaan program ke SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di seluruh Jawa Timur.
Dalam pelaksanaannya, setiap sekolah memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menghasilkan berbagai komoditas pangan. Ada sekolah yang mengembangkan budidaya sayuran, buah-buahan, tanaman pangan, hingga sistem hidroponik. Di daerah lain, sekolah mengembangkan budidaya ikan, peternakan unggas, serta mengolah hasil panen menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.
Dindik Jatim menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis praktik atau learning by doing melalui Program SIKAP. Peserta didik tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari menanam, merawat tanaman, memelihara ikan dan ternak, memanen, hingga mengolah hasil produksi.
Metode tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata sekaligus memperkuat pemahaman peserta didik tentang pentingnya ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Mereka juga mengembangkan keterampilan hidup yang akan menjadi bekal menghadapi tantangan di masa depan.
Selain meningkatkan kompetensi peserta didik, Program SIKAP juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Berbagai hasil panen dan produk olahan dipasarkan melalui bazar sekolah, pameran pendidikan, serta kegiatan pemerintah daerah. Produk-produk tersebut turut mendukung pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan berbagai kegiatan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga ketersediaan pangan.
Program ini juga membentuk karakter peserta didik melalui pengalaman bekerja secara langsung. Mereka belajar disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama dalam tim, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Di sisi lain, sekolah memperkenalkan konsep kewirausahaan sejak dini. Peserta didik belajar mengolah hasil panen menjadi produk yang bernilai ekonomi, menyusun kemasan yang menarik, hingga memahami strategi pemasaran. Pengalaman tersebut mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, inovatif, mandiri, dan memiliki daya saing.
Hingga kini, Program SIKAP telah melibatkan ratusan SMA, SMK, dan SLB di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur dengan partisipasi ratusan ribu guru serta peserta didik. Program tersebut menjadi bukti bahwa dunia pendidikan mampu berkontribusi secara nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan proses pembelajaran yang kontekstual dan berkelanjutan.
Ke depan, Dindik Jatim berharap Program SIKAP terus berkembang sebagai gerakan pendidikan yang mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, berkarakter, peduli terhadap lingkungan, serta siap mengambil peran dalam mewujudkan ketahanan pangan Indonesia yang berkelanjutan.(Fajar)

