Kawankitanews.web.id– Perumda Air Minum (PAM) Surya Sembada Kota Surabaya menjadi lokasi pembelajaran mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terkait sistem pengolahan air minum.
Sebanyak 15 mahasiswa NTU, 15 mahasiswa ITS, dan lima dosen pendamping mengunjungi Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Ngagel, kawasan Ngagel Tirto, Kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Selasa (29/9/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari program Empowering Communities through Opportunities and Unity in Sustainability (ECO UNITY 2026). Departemen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK) ITS bersama School of Materials Science and Engineering NTU Singapura menginisiasi program tersebut.
PAM Surya Sembada menerima rombongan melalui Kharisma Putu Sukanto selaku Supervisor Ngagel 2. Para peserta kemudian mengamati secara langsung sistem pengolahan air mulai dari pengolahan air baku hingga tahapan akhir sebelum air didistribusikan kepada masyarakat.
Dosen pendamping NTU, Dr. Luciana Lisa Lao, mengatakan kunjungan langsung ke fasilitas pengolahan air memberikan pengalaman belajar yang penting bagi mahasiswa.
“Kunjungan ini membuka wawasan mahasiswa kami. Banyak dari mereka yang belum pernah masuk langsung ke fasilitas pengolahan air skala kota. Ini adalah pengalaman luar biasa untuk melihat secara nyata bagaimana air baku dari sungai diproses melalui berbagai tahapan krusial hingga akhirnya siap didistribusikan kepada masyarakat Surabaya,” ungkap Dr. Lisa.
Mahasiswa NTU yang mengikuti kegiatan tersebut memiliki latar belakang Ilmu dan Teknik Material. Dr. Lisa berharap pengalaman di IPAM Ngagel dapat mendorong mahasiswa mengembangkan gagasan baru untuk menjawab tantangan dalam pengolahan air.
Ia juga membagikan perspektif mengenai teknologi NEWater berbasis Reverse Osmosis yang digunakan Singapura untuk mendukung kemandirian air di tengah keterbatasan sumber daya alam.
Menurut Dr. Lisa, interaksi langsung dengan tim PAM Surya Sembada membantu mahasiswa memahami tantangan pengolahan air di lapangan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan diskusi untuk mengembangkan inovasi, termasuk peningkatan efisiensi material filtrasi dan proses koagulasi.
“Melalui interaksi dan diskusi langsung dengan tim ahli PAM Surya Sembada yang sangat kooperatif memandu kami, mahasiswa dapat memahami tantangan nyata di lapangan,” katanya.
Mahasiswa NTU, Justin Lawrence, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti kunjungan. Ia menilai Surabaya memiliki karakter kota dan sistem penyediaan air yang menarik untuk dipelajari.
“Kesan pertama saya, Kota Surabaya sangat modern dan jauh lebih hidup serta padat dibandingkan dengan Singapura. Infrastrukturnya juga sangat baik dan beragam,” ujar Justin.
Justin juga melihat perbedaan tantangan pengelolaan air antara Singapura dan Indonesia. Menurutnya, Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan sumber air alami, sedangkan Indonesia memiliki wilayah geografis yang luas sehingga menghadapi tantangan distribusi air.
Ia menilai proses pengolahan air dari sumber alam terbuka juga membutuhkan tahapan yang kompleks. Pengalaman melihat langsung proses tersebut memberikan pemahaman baru bagi mahasiswa NTU mengenai pengelolaan air di Indonesia.
Kunjungan mahasiswa NTU dan ITS sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi, mahasiswa, dan praktisi pengelolaan air. PAM Surya Sembada menjadi tempat peserta mempelajari secara langsung penerapan teknologi dan pengelolaan air pada skala kota.
Kolaborasi dalam program ECO UNITY 2026 diharapkan dapat memperkuat hubungan akademik antara ITS dan NTU sekaligus membuka peluang pengembangan inovasi teknologi lingkungan.
Kerja sama tersebut juga diharapkan melahirkan solusi pengelolaan air yang adaptif dan berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi pengembangan sistem penyediaan air bersih di Indonesia, khususnya Kota Surabaya.(Red)

