kawankitanews.web.id – Ribuan buruh dari berbagai daerah memadati kawasan Monumen Nasional dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026, Jumat (1/5/2026). Mereka menggelar aksi damai sambil menyuarakan tuntutan terkait kesejahteraan pekerja, perlindungan tenaga kerja, serta evaluasi kebijakan ketenagakerjaan.
Ketua SPSI Surabaya, Sunowo, menyampaikan bahwa buruh tidak menolak investasi, tetapi menolak jika kebijakan ekonomi justru mengorbankan kesejahteraan pekerja. Ia menilai pemerintah harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan buruh.
“Kami mendukung investasi, tetapi pemerintah harus memastikan buruh tetap terlindungi. Jangan sampai kebijakan hanya menguntungkan satu pihak,” tegas Sunowo di lokasi aksi.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan regulasi ketenagakerjaan di tingkat daerah. Menurutnya, banyak pelanggaran yang terjadi di lapangan tanpa penindakan tegas dari pihak berwenang.
Sementara itu, aktivis 1998, Eko Gagak, mengkritik pemerintah yang dinilai belum menunjukkan keberpihakan nyata kepada buruh. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa terus mengandalkan angka pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan kondisi riil para pekerja.
“Buruh masih menghadapi kesulitan hidup layak. Ini bukan hanya soal upah, tetapi soal keadilan sosial,” ujar Eko.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memastikan regulasi ketenagakerjaan berjalan efektif. Menurutnya, tanpa pengawasan yang kuat, kebijakan yang dibuat pemerintah pusat tidak akan berdampak nyata di lapangan.
Dalam aksi tersebut, para buruh membawa berbagai tuntutan, mulai dari kenaikan upah layak, jaminan perlindungan kerja, hingga penegakan hukum terhadap pelanggaran ketenagakerjaan. Mereka juga mendesak pemerintah untuk membuka ruang dialog yang lebih substantif dengan buruh.
Para peserta aksi turut menggaungkan semangat perjuangan Marsinah sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Mereka menilai perjuangan buruh tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyangkut hak dan martabat pekerja.
Aksi May Day 2026 ini menjadi momentum penting bagi buruh untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka. Mereka berharap pemerintah segera merespons tuntutan dengan kebijakan konkret yang berpihak pada kesejahteraan pekerja.
Jika tuntutan tersebut tidak ditindaklanjuti, para buruh menilai kepercayaan publik terhadap pemerintah akan semakin menurun. Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah mengambil langkah nyata demi menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh pekerja di Indonesia.(Red)

