kawankitanews.web.id – Budayawan Jacob Ereste mengajak masyarakat memperkuat nilai-nilai spiritual sebagai bekal menghadapi berbagai gejolak yang melanda kehidupan saat ini.
Ia menilai perubahan yang terjadi di bidang politik, ekonomi, hukum, hingga budaya telah menciptakan situasi yang penuh ketidakpastian dan berpotensi menggerus nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui refleksi bertajuk Kesederhanaan Hidup Dalam Laku Spiritual Dari Turbulensi Budaya yang Menyergap Dari Delapan Penjuru Angin,
Jacob menegaskan bahwa manusia perlu kembali menjadikan kejujuran, kesetiaan, konsistensi, dan keikhlasan sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, persahabatan yang dibangun atas dasar kejujuran dan kesetiaan akan berkembang menjadi persaudaraan yang kokoh.
Hubungan seperti itu tidak bergantung pada ikatan darah ataupun kepentingan materi, tetapi tumbuh dari hati yang saling menghargai dan saling menjaga kepercayaan.
Jacob menilai banyak konflik sosial yang terjadi saat ini berawal dari sikap egois, keinginan mendominasi, serta kecenderungan mengutamakan kepentingan pribadi.
Kondisi tersebut, katanya, semakin memperparah krisis budaya yang ditandai dengan memudarnya nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh membiarkan krisis budaya mengikis karakter bangsa.
Sebaliknya, setiap individu perlu membangun kesadaran spiritual agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
“Kejujuran, kesetiaan, dan keikhlasan menjadi modal utama untuk membangun kehidupan yang harmonis.
Nilai-nilai itu akan menjaga manusia tetap berada di jalan yang benar meski menghadapi berbagai godaan,” ujar Jacob.
Lebih lanjut, Jacob menjelaskan bahwa laku spiritual tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Tuhan, tetapi juga tercermin dalam sikap menghormati sesama, menjaga amanah, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ia mengingatkan bahwa manusia telah memperoleh amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Karena itu, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan kebaikan dan menjaga kemuliaan akhlak di tengah derasnya arus perubahan sosial.
Jacob juga menyoroti derasnya pengaruh budaya modern yang sering mendorong masyarakat mengejar materi, popularitas, dan kekuasaan.
Menurutnya, apabila kondisi tersebut tidak diimbangi dengan penguatan spiritual, manusia akan mudah terjebak dalam perilaku yang menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan kesederhanaan sebagai bagian dari laku spiritual. Kesederhanaan, menurutnya, mampu membentuk ketenangan batin, memperkuat karakter, serta menjaga manusia tetap teguh menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Bersikap sederhana bukan berarti menyerah terhadap keadaan, tetapi memilih tetap berpijak pada nilai-nilai luhur ketika dunia terus berubah,” tegasnya.
Di akhir refleksinya, Jacob Ereste berharap masyarakat terus merawat nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Ia meyakini bahwa penguatan karakter, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama akan menjadi benteng terbaik untuk menghadapi era yang penuh gejolak sekaligus menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang membawa rahmat bagi kehidupan.(Kontributor Yacob)

