kawankitanews.web.id– Iran kembali menarik perhatian dunia setelah mengerahkan strategi “armada nyamuk” di Selat Hormuz, jalur laut paling vital bagi perdagangan energi global. Iran mengoperasikan ratusan hingga ribuan kapal cepat bersenjata ringan yang bergerak secara bergerombol untuk memperkuat kontrol di kawasan strategis tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggerakkan kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi itu untuk melakukan patroli intensif, pengawasan, hingga manuver tekanan terhadap kapal asing yang melintas di wilayah tersebut. Iran juga memadukan armada cepat itu dengan sistem rudal pesisir dan drone tempur untuk memperkuat daya gentar di kawasan Teluk Persia.
Para analis pertahanan menilai Iran menerapkan strategi perang asimetris dengan mengandalkan jumlah, kecepatan, dan serangan berkelompok untuk menandingi kekuatan laut negara besar seperti Amerika Serikat. Taktik ini membuat kapal perang besar sulit mengantisipasi serangan mendadak dari berbagai arah.
Iran memanfaatkan kondisi geografis Selat Hormuz yang sempit untuk memperkuat strategi tersebut. Di wilayah ini, arus lalu lintas kapal sangat padat sehingga kapal-kapal kecil Iran dapat bergerak cepat, menyusup, dan menekan kapal dagang maupun kapal militer lawan.
Situasi tersebut membuat Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia. AS mengerahkan kapal perang dan melakukan patroli udara untuk mengamankan jalur pelayaran minyak dunia yang melewati Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur penting karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas melalui perairan tersebut setiap hari.
Kondisi ini membuat setiap peningkatan ketegangan langsung memicu kekhawatiran pasar energi internasional.
Pengamat keamanan menilai keberadaan “armada nyamuk” Iran tidak hanya berfungsi sebagai alat militer, tetapi juga sebagai instrumen tekanan geopolitik untuk memengaruhi stabilitas kawasan dan perdagangan global.
Hingga kini, Selat Hormuz tetap menjadi titik panas geopolitik dunia, sementara aktivitas armada cepat Iran terus menjadi sorotan utama dalam dinamika ketegangan Iran–AS di kawasan Timur Tengah.(Red)
Dikutip dari media jurnallugas.com

