kawanindonesia.web.id – Pengamat sosial Jacob Ereste menyoroti kecenderungan masyarakat modern yang menjadikan simbol-simbol keagamaan sebagai bagian dari pencitraan publik, bukan sebagai penghayatan nilai spiritual yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari.
Jacob menilai, sebagian praktik keagamaan kini sering ditampilkan sebagai identitas sosial di ruang publik, namun tidak selalu diwujudkan secara konsisten dalam perilaku dan tindakan nyata di kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa ajaran agama pada dasarnya mendorong manusia untuk membangun moralitas, memperkuat disiplin diri, serta menumbuhkan kepedulian sosial.
Namun, ia menilai implementasi nilai tersebut kerap melemah dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Jacob mengkritisi kecenderungan sebagian masyarakat yang hanya menampilkan simbol keagamaan sebagai atribut, sementara substansi spiritualnya tidak sepenuhnya hadir dalam tindakan.
Ia juga menyoroti pelaksanaan kewajiban sosial seperti zakat, sedekah, dan wakaf yang menurutnya belum berjalan seimbang dengan pemahaman dan pengamalan nilai keagamaan secara menyeluruh.
Menurut Jacob, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna agama yang tidak lagi sepenuhnya dipahami sebagai pedoman hidup, melainkan sering berubah menjadi bagian dari citra diri di ruang publik.
Ia menilai budaya pencitraan telah berkembang luas dalam kehidupan modern dan turut memengaruhi cara sebagian masyarakat menampilkan identitas keagamaannya.
Jacob juga menyinggung bahwa kemegahan simbolik dalam kehidupan beragama, seperti bangunan rumah ibadah yang besar dan mewah, tidak selalu diiringi dengan penguatan nilai spiritual di dalamnya.
“Simbol keagamaan sering kali hanya berhenti pada tampilan luar, sementara nilai substansinya justru tidak selalu terinternalisasi dalam kehidupan nyata,” demikian inti pandangannya.
Jacob menegaskan perlunya penguatan kembali nilai spiritual agar agama tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi benar-benar menjadi pedoman moral dalam kehidupan sosial masyarakat.(Kontributor banten yacob)

