9 Agustus 2026

Pancasila dan Tantangan Kapitalisme, Jacob Ereste Dorong Penguatan Moral serta Spiritual

Keterangan foto: Jacob Ereste mendorong penguatan moral dan spiritual untuk menjaga nilai-nilai Pancasila.

kawankitanews.web.id — Penulis dan aktivis Jacob Ereste mendorong penguatan moral dan spiritual sebagai bagian penting dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya pengaruh kapitalisme, liberalisme, dan materialisme. Ia menilai bangsa Indonesia perlu memperkuat kembali nilai ketuhanan dan moral agar Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan tersebut Jacob Ereste sampaikan melalui tulisannya berjudul “Kapitalisme, Liberalisme, Hingga Materialisme vs Pancasila Dalam P4 dan BPIP.” Dalam tulisan itu, ia menyoroti tantangan yang dihadapi Pancasila ketika masyarakat semakin kuat menerima pengaruh budaya materialisme dan orientasi terhadap kekayaan.

Jacob mempertanyakan posisi sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia melihat berbagai persoalan seperti korupsi, pencucian uang, penyalahgunaan kekuasaan, hingga transaksi kepentingan dapat menjadi cerminan melemahnya nilai moral dan spiritual.

Menurut Jacob, masyarakat perlu melihat persoalan korupsi tidak hanya dari sisi hukum dan ekonomi. Ia menilai perilaku tersebut juga berkaitan dengan persoalan moral dan karakter manusia yang menjalankan kekuasaan.

Ia menyoroti sejumlah kasus ketika pejabat atau orang yang memiliki posisi strategis mengorbankan reputasi, jabatan, karier, dan martabat demi mengejar kekayaan. Menurutnya, perilaku tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan jabatan bergengsi tidak selalu menjamin seseorang memiliki integritas.

Jacob menilai masyarakat membutuhkan penguatan nilai spiritual untuk melengkapi pendidikan intelektual. Ia berpendapat bahwa pengetahuan dan kecerdasan harus berjalan bersama moral, etika, dan tanggung jawab agar seseorang tidak menyalahgunakan kemampuan maupun kekuasaan yang dimilikinya.

Ia juga menyoroti pengaruh kapitalisme dan liberalisme yang menurutnya semakin masuk ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Jacob menilai orientasi materialisme dapat mendorong seseorang mengukur keberhasilan hanya berdasarkan kekayaan, jabatan, dan kekuasaan.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menggeser nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial apabila masyarakat tidak memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat.

Jacob kemudian mempertanyakan posisi Pancasila sebagai way of life atau pandangan hidup bangsa Indonesia. Ia menilai Pancasila harus hadir dalam perilaku nyata masyarakat dan penyelenggara negara, bukan sekadar menjadi slogan atau materi dalam kegiatan seremonial.

Ia menekankan pentingnya menerapkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan pemerintahan. Menurutnya, penyelenggara negara harus menunjukkan integritas dan menjalankan kekuasaan dengan penuh tanggung jawab kepada masyarakat.

Jacob juga mengaitkan persoalan tersebut dengan keberadaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang pernah diterapkan pemerintah.

Ia mempertanyakan sejauh mana pembinaan ideologi mampu menghadapi tantangan kapitalisme, liberalisme, dan materialisme. Menurutnya, pembinaan Pancasila harus menghasilkan perubahan perilaku yang nyata dan mendorong masyarakat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Jacob menilai negara perlu memperkuat pendidikan moral dan spiritual dalam membangun karakter masyarakat. Ia memandang pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap sesama.

Ia juga menyoroti persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih menjadi tantangan bangsa. Menurutnya, pembangunan ekonomi perlu berjalan bersama dengan pembangunan karakter agar kemajuan material tidak mengorbankan nilai kemanusiaan.

Jacob menilai korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan tidak selalu lahir dari kemiskinan atau rendahnya pendidikan. Ia menunjukkan bahwa pelaku korupsi dapat berasal dari kalangan terdidik dan memiliki jabatan tinggi.

Karena itu, ia mendorong bangsa Indonesia memperkuat dimensi moral dan spiritual dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, penguatan tersebut dapat membantu masyarakat memahami bahwa kekuasaan dan kekayaan bukan tujuan utama kehidupan.

Ia juga mengajak penyelenggara negara menjalankan tugas berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Para pejabat, menurutnya, harus mengutamakan kepentingan rakyat dan menjauhi tindakan yang dapat merusak kepercayaan masyarakat.

Jacob menegaskan bahwa Pancasila harus mampu menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai perubahan zaman. Bangsa Indonesia perlu menjaga nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial ketika menghadapi perkembangan ekonomi dan budaya global.

Ia berharap masyarakat tidak membiarkan kapitalisme, liberalisme, dan materialisme menggeser nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa. Menurutnya, bangsa Indonesia perlu membangun keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan penguatan karakter manusia.

Melalui gagasannya, Jacob mendorong masyarakat dan pemerintah melakukan refleksi terhadap penerapan Pancasila. Ia menilai penguatan moral dan spiritual menjadi langkah penting untuk menjaga Pancasila tetap hidup sebagai pandangan dan pedoman dalam kehidupan masyarakat.

Jacob juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya dapat diukur melalui pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang kuat, menurutnya, harus memiliki masyarakat yang berintegritas, menjunjung moral, memiliki kesadaran spiritual, dan mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan memperkuat moral dan spiritual, Jacob berharap masyarakat dapat menghadapi tantangan kapitalisme dan materialisme tanpa kehilangan jati diri bangsa. Ia menilai Pancasila harus tetap menjadi fondasi utama dalam membangun Indonesia yang berkeadilan, bermartabat, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *