kawankitanews.web.id – Perobohan Monumen Kayuh Baimbai di Kota Banjarmasin memicu perhatian sejumlah kalangan.
Pengamat menilai keberadaan monumen tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sejarah dan budaya yang melekat pada perjalanan Kota Banjarmasin.
Monumen Kayuh Baimbai selama ini dikenal sebagai simbol semangat gotong royong masyarakat Banjar. Filosofi “kayuh baimbai” mengandung makna bekerja bersama, menyatukan langkah, dan membangun daerah melalui kebersamaan.
Seorang pengamat menilai kebijakan pembangunan seharusnya tidak menghilangkan jejak sejarah yang telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.
Menurutnya, pembangunan ideal adalah pembangunan yang mampu menghadirkan fasilitas baru tanpa menghapus peninggalan bersejarah yang memiliki nilai budaya.
“Setiap pembangunan semestinya menjadi penambahan nilai bagi kota, bukan menghilangkan bukti sejarah yang telah menjadi identitas masyarakat,” ujarnya.
Pengamat tersebut menyebut setidaknya terdapat tiga nilai penting yang patut dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan merobohkan monumen bersejarah.
Pertama, hilangnya simbol filosofi Kayuh Baimbai yang selama ini menjadi pengingat semangat persatuan dan gotong royong masyarakat Banjarmasin dalam membangun daerah.
Kedua, hilangnya salah satu karya seni monumental ciptaan maestro seni rupa Kalimantan Selatan, Misbach Tamrin. Karya tersebut dinilai memiliki nilai artistik sekaligus menjadi bagian dari perkembangan seni rupa daerah.
Ketiga, hilangnya salah satu peninggalan yang merekam perjalanan pembangunan Kota Banjarmasin pada masa kepemimpinan Wali Kota M. Effendi Rintonga.
Monumen yang dibangun pada 1985 itu dinilai sebagai bagian dari sejarah pemerintahan yang patut dikenang oleh generasi berikutnya.
Dalam pandangannya, setiap kebijakan yang menyangkut bangunan bernilai sejarah sebaiknya melalui kajian komprehensif dengan melibatkan berbagai unsur, seperti budayawan, sejarawan, akademisi, arsitek, serta masyarakat.
Langkah tersebut dinilai penting agar keputusan yang diambil mempertimbangkan aspek budaya, sejarah, dan kepentingan publik.
Pengamat juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pelestarian warisan budaya.
Menurutnya, identitas sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh gedung-gedung baru, tetapi juga oleh peninggalan sejarah yang menjadi saksi perjalanan daerah dari masa ke masa.
Ia berharap momentum menjelang peringatan hari jadi Kota Banjarmasin dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga aset sejarah sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus warisan budaya bagi generasi mendatang.
Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Kota Banjarmasin belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan dan pertimbangan teknis perobohan Monumen Kayuh Baimbai sebagaimana menjadi perhatian sejumlah kalangan.
Media masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak terkait untuk memenuhi prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.(Red)

