kawankitanews.web.id— Penulis Jacob Ereste menyoroti kembali pemaknaan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha yang menurutnya mulai mengalami pergeseran di tengah praktik sosial dan kebijakan distribusi hewan kurban di masyarakat.
Jacob menegaskan bahwa kurban Idul Adha harus dipahami sebagai ibadah yang berlandaskan keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT, bukan sekadar kegiatan seremonial atau agenda distribusi sosial.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, kurban menuntut seseorang untuk mengeluarkan sebagian rezekinya yang halal sebagai bentuk penghambaan diri. Karena itu, ia menilai kurban tidak dapat disamakan dengan program bantuan sosial yang dikelola oleh lembaga atau pemerintah.
“Nilai utama kurban terletak pada keikhlasan dan kesadaran untuk berkorban dari harta sendiri, bukan dari dana kolektif yang sudah diatur untuk kepentingan sosial,” ujar Jacob dalam pandangannya.
Jacob juga mengingatkan bahwa penyederhanaan makna kurban menjadi sekadar aktivitas berbagi daging kepada masyarakat dapat mengaburkan dimensi spiritual yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, ibadah kurban memiliki hubungan langsung antara manusia dengan Tuhannya.
Ia menambahkan, keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi dasar penting dalam memahami hakikat kurban, yaitu kepatuhan total terhadap perintah Allah SWT yang dilandasi keimanan dan keikhlasan.
“Ketika aspek ibadahnya diabaikan, maka kurban hanya tinggal menjadi aktivitas sosial biasa yang kehilangan ruh spiritualnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jacob mengajak masyarakat untuk menjaga kemurnian niat dalam berkurban agar tidak terjebak pada formalitas atau kepentingan pencitraan. Ia menilai, esensi kurban akan tetap relevan sepanjang umat Islam memahami bahwa inti dari ibadah ini adalah pengorbanan diri dan ketakwaan.
Di akhir pandangannya, Jacob menekankan bahwa pemaknaan kurban harus tetap berada dalam koridor syariat Islam agar tidak bergeser menjadi sekadar kegiatan sosial tanpa nilai ibadah yang utuh.(Kontributor yacob )

