kawankitanews.web.id– Budayawan dan pengamat sosial Jacob Ereste menyoroti maraknya praktik korupsi dan menguatnya budaya materialisme yang dinilainya menjadi ancaman serius bagi eksistensi ideologi Pancasila.
Menurutnya, orientasi hidup yang semakin berpusat pada kekayaan dan kepentingan materi telah mengikis nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam pandangan tertulisnya yang disampaikan di Banten, 12 Juli 2026, Jacob mengatakan Pancasila seharusnya menjadi pedoman utama bagi penyelenggara negara maupun masyarakat.
Namun, ia menilai implementasi nilai-nilai Pancasila semakin melemah di tengah derasnya pengaruh kapitalisme dan liberalisme yang lebih mengedepankan kepentingan ekonomi serta keuntungan pribadi.
Jacob menegaskan bahwa maraknya kasus korupsi yang terus terungkap menunjukkan adanya krisis integritas di berbagai lini.
Ia menilai tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat yang telah memberikan kepercayaan kepada para pejabat negara.
“Korupsi tidak hanya menguras keuangan negara, tetapi juga merusak moral bangsa dan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara,” ujar Jacob.
Menurutnya, berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik, aparat penegak hukum, maupun pihak yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan menunjukkan bahwa sebagian pelaku lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada tanggung jawab kepada masyarakat.
Jacob juga menyoroti berkembangnya budaya materialisme yang menjadikan kekayaan sebagai ukuran utama keberhasilan.
Ia menilai pola pikir tersebut telah mendorong sebagian orang menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan, termasuk melalui penyalahgunaan jabatan dan praktik korupsi.
Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut menjadi ironi karena banyak pelaku korupsi berasal dari kalangan berpendidikan tinggi dan memiliki posisi strategis.
Menurut Jacob, kecerdasan intelektual tidak akan berarti apabila tidak disertai integritas, moral, dan nilai-nilai spiritual.
Selain itu, Jacob mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam kehidupan berbangsa.
Ia menyinggung keberadaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang diharapkan mampu memperkuat pembinaan ideologi, namun menurutnya tantangan terbesar justru terletak pada implementasi nilai-nilai Pancasila dalam praktik pemerintahan dan kehidupan masyarakat.
Jacob menilai sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, seharusnya menjadi landasan moral yang mampu membentuk karakter penyelenggara negara agar menjalankan amanah dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Ia berpendapat bahwa ketika nilai-nilai tersebut melemah, praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang akan semakin mudah berkembang.
Karena itu, Jacob mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat kembali pengamalan Pancasila melalui pendidikan karakter, keteladanan para pemimpin, penegakan hukum yang adil, serta budaya antikorupsi di semua lapisan masyarakat.
Menurutnya, upaya tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga Pancasila tetap menjadi ideologi yang hidup dan mampu menjawab tantangan zaman.
“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol negara. Nilai-nilainya harus hadir dalam setiap kebijakan,
” perilaku pemimpin, dan kehidupan masyarakat agar bangsa ini tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus kapitalisme dan materialisme,” tegas Jacob.
Pernyataan tersebut disampaikan Jacob Ereste sebagai refleksi atas berbagai persoalan kebangsaan yang dinilainya memerlukan perhatian serius agar Indonesia tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa.(Kontributor Yacob)

