kawankitanews.web.id – Kesenian tradisional Besutan dari Surabaya kembali mendapat panggung bergengsi di tingkat internasional. Seniman Surabaya, Meimura, akan membawakan pertunjukan Besutan dalam ajang Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan (LISAN XIII) yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5–7 Agustus 2026.
Keikutsertaan Besutan dalam forum budaya internasional tersebut menjadi langkah nyata untuk memperkenalkan sekaligus menggaungkan pelestarian ludruk sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang kini menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Pada pembukaan festival, 5 Agustus 2026, Meimura akan tampil bersama kelompok Gambang Rancag/Kromong dari Jakarta serta Seraikela Chhau, seni tari topeng tradisional dari India yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2010.
Sementara pada penutupan, 7 Agustus 2026, Besutan akan kembali hadir di atas panggung bersama Komunitas Papua Yosim Pancar dan Silek Harimau dari Sumatera Barat. Kolaborasi lintas budaya tersebut diharapkan memperlihatkan kekayaan tradisi lisan dan seni pertunjukan dari Indonesia maupun mancanegara.
LISAN XIII merupakan agenda dua tahunan yang diselenggarakan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, pegiat budaya, dan pelaku tradisi lisan dari berbagai negara untuk bertukar gagasan serta memperkuat pelestarian warisan budaya.
Selain menghadirkan pertunjukan seni, forum ini juga menggelar seminar ilmiah dan Musyawarah Nasional ATL sebagai wadah memperkuat jejaring pelestarian tradisi lisan di Indonesia.
Dalam seminar tersebut, Wakil Ketua ATL Jawa Timur, Henri Nurcahyo, akan mempresentasikan makalah berjudul “Menyalakan Api Ludruk Melalui Besutan.” Makalah tersebut mengangkat Besutan sebagai salah satu strategi menjaga eksistensi ludruk yang semakin tergerus perubahan zaman.
Henri menjelaskan, kesempatan tampil di forum internasional merupakan hasil dari gerakan “Besut Jajah Desa Milangkori” yang digagas Meimura sejak April 2026. Melalui program tersebut, Meimura telah membawa Besutan berkeliling ke 10 kota di Jawa Timur untuk memperkenalkan kembali seni pertunjukan yang menjadi cikal bakal ludruk.
Menurut Henri, Besutan dan Ludruk sama-sama telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sehingga keduanya perlu terus dipromosikan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Penampilan Besutan di forum internasional memiliki makna penting untuk menggugah kepedulian masyarakat terhadap keberadaan ludruk yang semakin tergerus perkembangan zaman. Besutan menjadi salah satu alternatif untuk menjaga agar nyala ludruk tetap hidup,” ujar Henri.
Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) sendiri merupakan organisasi pemerhati tradisi lisan yang telah memperoleh akreditasi UNESCO sejak 2011. Sejak berdiri pada 1993, ATL aktif melaksanakan penelitian, pendampingan masyarakat, pendidikan kebudayaan, serta berbagai kegiatan pelestarian tradisi lisan di Indonesia.
Melalui penampilan Besutan di panggung internasional, Meimura dan ATL berharap masyarakat semakin mengenal kekayaan seni tradisi Nusantara serta terdorong untuk ikut menjaga keberlangsungan ludruk sebagai identitas budaya yang memiliki nilai sejarah, seni, dan pendidikan bagi generasi mendatang.(Geng)

