kawankitanews.web.id – Balai Pemuda Surabaya menjadi pusat peringatan dan penghormatan terhadap maestro musik Indonesia, Gombloh, melalui pembukaan pameran foto bertajuk “Gombloh: Bukan Hanya di Radio”, Selasa (7/7/2026).
Bersamaan dengan pembukaan pameran tersebut, panitia juga meluncurkan sebuah buku tribute yang mengangkat perjalanan hidup, karya, serta pemikiran Gombloh sebagai seniman yang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan musik dan budaya Indonesia.
Kegiatan yang digagas Sasana Shanti Antropologi itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan menjelang hari lahir Gombloh pada 12 Juli.
Melalui pameran dan peluncuran buku, penyelenggara ingin mengajak masyarakat mengenal lebih dalam sosok Gombloh, bukan hanya sebagai pencipta lagu legendaris,
tetapi juga sebagai budayawan yang menyampaikan kritik sosial, pesan kemanusiaan, dan kecintaan terhadap lingkungan melalui karya-karyanya.
Ketua penyelenggara, Esti Susanti, secara resmi membuka kegiatan sekaligus memperkenalkan buku tribute yang disusun sebagai pendamping pameran.
Dalam sambutannya, Esti menegaskan bahwa Gombloh meninggalkan warisan yang jauh melampaui dunia musik.
“Gombloh adalah seniman yang menghadirkan gagasan melalui lagu-lagunya. Karena itu, kami ingin menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk memahami pemikiran dan nilai-nilai yang ia wariskan,” ujarnya.
Buku tribute tersebut memuat tulisan dari sejumlah penulis dan pemerhati budaya, yakni Guruh Diemas, Rokim Dakas, Heri Lentho, dan Esti Susanti.
Setiap tulisan mengulas berbagai sisi kehidupan Gombloh, mulai dari proses kreatif, perjalanan berkesenian, hingga makna filosofis yang terkandung dalam lagu-lagu ciptaannya.
Usai seremoni pembukaan, Esti Susanti bersama jajaran panitia mengajak tamu undangan dan pengunjung memasuki Galeri Merah Putih untuk meninjau pameran foto.
Puluhan foto yang dipajang menampilkan dokumentasi perjalanan hidup Gombloh, aktivitas bermusik bersama rekan-rekannya, hingga berbagai momen penting yang membentuk kiprahnya sebagai salah satu maestro musik Indonesia.
Pameran juga menghadirkan arsip visual yang memperlihatkan kedekatan Gombloh dengan Surabaya. Balai Pemuda menjadi salah satu tempat yang memiliki nilai historis dalam perjalanan kariernya karena di lokasi tersebut ia pernah berlatih, berdiskusi, dan membangun kreativitas bersama para seniman pada masa awal hingga puncak kiprahnya.
Selain menikmati pameran, pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan seni yang membawakan lagu-lagu karya Gombloh.
Penampilan musisi dan komunitas seni dari berbagai daerah semakin memperkuat semangat pelestarian warisan budaya yang ditinggalkan sang maestro.
Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung hingga 8 Juli 2026 dengan menghadirkan diskusi budaya, pertunjukan musik, serta pementasan seni lainnya.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap generasi muda semakin mengenal sosok Gombloh beserta nilai-nilai yang terkandung dalam karya-karyanya.
Pameran foto dan peluncuran buku tribute di Balai Pemuda Surabaya menjadi bukti bahwa karya dan pemikiran Gombloh tetap hidup di tengah masyarakat.
Warisan yang ditinggalkan sang maestro tidak hanya dikenang melalui lagu-lagu legendarisnya, tetapi juga terus dipelajari dan diwariskan sebagai bagian penting dari sejarah seni dan budaya Indonesia.(Geng)

