24 April 2026

Sambang Putu Jadi Sorotan, Meimura Hidupkan Tradisi Ludruk di Nganjuk

Meimura tampilkan lakon “Sambang Putu” bersama anak-anak di panggung Sanggar Rumah Ilalang KSII.
Meimura tampilkan lakon “Sambang Putu” bersama anak-anak di panggung Sanggar Rumah Ilalang KSII.

Kawankitanews.web.id  – Seniman ludruk Meimura atau Meijono menghidupkan kembali tradisi ludruk melalui pementasan bertajuk “Sambang Putu” di Sanggar Rumah Ilalang KSII, Karangnongko, Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (25/4/2026).

Dalam pementasan tersebut, Meimura menampilkan konsep berbeda dengan melibatkan anak-anak secara aktif di atas panggung.

Ia tidak hanya menempatkan mereka sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian penting dalam alur cerita.

“Sambang putu bukan sekadar cerita keluarga, tetapi filosofi tentang kesinambungan hidup dan hubungan antar generasi,” ujar Meimura.

Ia mengemas lakon tersebut dengan gaya khas ludruk yang memadukan humor, parikan, serta sentuhan reflektif tentang kehidupan.

Penonton diajak tertawa sekaligus merenungkan makna hubungan antara kakek, nenek, dan cucu sebagai simbol keberlanjutan jiwa.

Sementara itu, pendiri sanggar Agus R. Subagyo yang akrab disapa SanRego menegaskan bahwa pihaknya selama ini fokus membina anak-anak dalam bidang seni, khususnya puisi dan teater.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi berani tampil dan berekspresi di panggung,” ujarnya.

Sanggar Rumah Ilalang yang berdiri sejak tahun 2000 telah menjadi ruang kreatif bagi generasi muda di Nganjuk.

Berbagai kegiatan seni rutin digelar, mulai dari puisi, teater, tari, musik hingga seni rupa.

Pementasan di Nganjuk ini menjadi rangkaian keempat dari program “Besut Jajah Deso Milangkori”

setelah sebelumnya digelar di Surabaya, Sidoarjo, dan Jombang. Selanjutnya, rombongan akan melanjutkan pentas ke Mojokerto pada awal Mei mendatang.

Usai pementasan, panitia juga menggelar sarasehan yang menghadirkan Autar Abdillah bersama SanRego sebagai narasumber untuk membahas perkembangan seni tradisi di ruang publik.

Program ini menjadi bagian dari Pemberdayaan Ruang Publik Dana Indonesiana yang didukung Kementerian Kebudayaan RI.

Melalui kegiatan ini, Meimura berharap tradisi ludruk tetap hidup dan mampu menjangkau generasi muda di tengah perkembangan zaman.

“Ludruk harus terus hidup dengan cara mendekatkan diri kepada masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus,” pungkasnya.(Geng)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *