8 Agustus 2026

KEMATIAN YANG TIDAK PERNAH BERDIRI SENDIRI: ANTARA PRASANGKA, DISKRIMINASI, DAN CITA-CITA INDONESIA

Jakarta, 01 Agustus 2026
– Setiap kematian sering kali tampak seolah sebagai peristiwa tunggal yang datang tiba-tiba. Namun kenyataan pahitnya: tidak ada kematian yang lahir hanya dari satu kejadian semata. Sering kali, kematian sesungguhnya telah dimulai jauh lebih awal—ketika martabat manusia digerus sedikit demi sedikit oleh stigma, prasangka, stereotip, dan diskriminasi yang perlahan dianggap lumrah. Kematian fisik pada akhirnya hanyalah babak terakhir dari proses panjang yang telah lama mematikan kemanusiaan seseorang.

Dalam karyanya Identity and Violence: The Illusion of Destiny, ilmuwan Amartya Sen mengenang pengalaman yang disaksikannya saat berusia sebelas tahun: kisah Kader Mia, seorang buruh Muslim yang ditikam hingga tewas di tengah konflik komunal di India. Ia bukan tokoh politik, bukan pula pihak yang bertikai—hanya seorang ayah yang keluar rumah demi mencari sesuap nasi bagi keluarganya. Namun di tengah amuk kebencian, ia tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan hanya sebagai label agama yang disematkan padanya.

Tidak mengajarkan satu kebenaran pahit: kekerasan lahir ketika manusia direduksi menjadi satu identitas tunggal. Ketika seseorang tak lagi dilihat sebagai individu yang lengkap—sebagai warga negara, pekerja, ayah, anak, tetangga—melainkan hanya dinilai dari agama, suku, ras, atau daerah asalnya, maka pintu pembenaran atas kekerasan pun terbuka lebar.

Refleksi itu terasa begitu nyata dan menusuk hati ketika menatap realita di negeri kita. Insiden kematian seorang pemuda asal Indonesia Timur di Matraman, Jakarta, menjadi satu titik puncak yang menggugah keprihatinan nasional. Namun di balik satu peristiwa itu, berjejak kisah panjang tentang perlakuan rasis, pandangan yang merendahkan, dan diskriminasi yang dialami oleh mahasiswa, pekerja, maupun perantau asal Papua, Maluku, hingga Nusa Tenggara. Tiap peristiwa memiliki fakta dan konteksnya sendiri, namun berulangnya pengalaman serupa menegaskan: persoalannya bukan sekadar insiden berdiri sendiri, melainkan struktur sosial yang masih memelihara dan mewariskan prasangka.

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai kekerasan simbolik: kekerasan yang tak selalu melukai kulit, namun membentuk cara pandang masyarakat untuk memandang rendah kelompok tertentu. Ia menyusup lewat candaan yang menyakitkan, ucapan yang merendahkan, pandangan yang miring, hingga permintaan agar korban “memaklumi” saja. Ketika penghinaan dianggap kelaziman, ketika rasisme dianggap hal sepele, sesungguhnya kita sedang menanam benih kekerasan yang lebih besar. Di sana, yang diserang bukan hanya tubuh seseorang, melainkan kemanusiaannya sendiri.

Itulah sebabnya kematian tak pernah berdiri sendiri. Sebelum nyawa direnggut, sering kali martabat telah lama dicabut. Sebelum darah menetes, hati telah lama terluka oleh pandangan yang membeda-bedakan. Dan ketika masyarakat mulai terbiasa melihat sebagian anak bangsa lewat kacamata stigma, bukan lewat kemanusiaannya, kita sedang membangun rumah yang tak aman bagi siapa pun.

Bung Karno pernah bersabda dengan tegas: “Negara Republik Indonesia bukan milik satu golongan, bukan milik satu agama, bukan milik satu suku, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia.” Kalimat ini bukan sekadar kenang-kenangan masa lalu, melainkan janji suci bahwa Republik ini berdiri di atas persamaan hak bagi semua anak bangsa.

Maka pertanyaan yang harus kita ajukan bukan hanya bagaimana sebuah peristiwa kekerasan bisa terjadi, melainkan mengapa prasangka masih terus tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebuah bangsa tak akan dihargai hanya karena ia mampu menghukum pelaku setelah tragedi terjadi, melainkan karena ia mampu menciptakan kehidupan di mana tak ada satu pun warga negara yang dihakimi lebih dulu hanya karena warna kulit, rambut, logat bicara, atau tempat lahirnya.

Pada akhirnya, bukan kehilangan satu nyawa yang paling mengerikan. Yang paling mengerikan adalah ketika sebuah bangsa perlahan kehilangan hati nuraninya untuk melihat sesama sebagai manusia yang setara. Saat itulah, bukan hanya satu orang yang menjadi korban—tetapi juga cita-cita Indonesia sebagai rumah yang layak bagi seluruh anak bangsanya.     “(N)”

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *