Kawankitanews.web.id – Budayawan dan penulis Jacob Ereste mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara perkembangan material dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, etika dan budaya Nusantara harus tetap menjadi fondasi utama dalam membangun karakter bangsa di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial.
Dalam tulisan berjudul Materialisme dan Spiritualisme Dalam Tradisi dan Budaya Suku Bangsa Nusantara Yang Telah Menjadi Indonesia, Jacob menyampaikan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak cukup diukur dari pencapaian material, tetapi juga dari kualitas moral, etika, dan integritas masyarakatnya.
Ia menilai kualitas seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, atau simbol yang melekat pada dirinya, melainkan oleh sikap, perilaku, serta kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat.
Menurutnya, gelar akademik, gelar adat, maupun gelar keagamaan mengandung tanggung jawab moral yang harus dijaga oleh setiap penyandangnya.
Jacob mengingatkan bahwa penggunaan gelar semata-mata untuk membangun citra diri tanpa diiringi kapasitas dan integritas justru mengurangi makna penghormatan terhadap gelar tersebut.
Ia menekankan bahwa masyarakat akan menilai seseorang dari tindakan dan keteladanannya, bukan sekadar dari identitas yang disandang.
Untuk menggambarkan pandangannya, Jacob mengibaratkan kualitas seseorang seperti sebuah telepon genggam.
Menurutnya, tampilan luar tidak akan memiliki arti apabila tidak didukung kemampuan dan fungsi yang memberikan manfaat bagi penggunanya.
Ia menilai substansi selalu lebih penting daripada penampilan.
Selain menyoroti persoalan tersebut, Jacob juga mengajak masyarakat menghargai kekayaan budaya Nusantara yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ia menjelaskan bahwa berbagai suku bangsa di Indonesia memiliki tradisi pemberian gelar, sapaan, maupun julukan keluarga yang lahir dari penghormatan, kedekatan sosial, dan nilai kekeluargaan.
Menurut Jacob, tradisi tersebut mencerminkan etika budaya yang memperkuat hubungan antarmasyarakat.
Ia khawatir nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kesederhanaan, rasa hormat, dan kebersamaan perlahan memudar akibat meningkatnya orientasi pada kepentingan material.
Jacob juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan kemajuan ekonomi tidak boleh menghilangkan jati diri bangsa.
Ia mendorong masyarakat untuk tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan material dengan penguatan spiritual, moral, dan akhlak sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.
Lebih lanjut, ia mengajak keluarga, lembaga pendidikan, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah untuk bersama-sama menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Menurutnya, pendidikan karakter yang berpijak pada budaya Nusantara akan memperkuat identitas nasional sekaligus membentuk masyarakat yang berintegritas.
Jacob menilai Indonesia memiliki modal budaya yang sangat kaya untuk menghadapi tantangan global.
Namun, ia menegaskan bahwa kekayaan tersebut harus dijaga melalui pelestarian tradisi, penghormatan terhadap etika, dan penguatan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir tulisannya, Jacob Ereste mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan warisan budaya Nusantara sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan Indonesia.
Menurutnya, keseimbangan antara materialisme dan spiritualitas akan melahirkan masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat dalam moral, beretika, dan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur budaya bangsa.(Kontributor Yacob)

