9 Agustus 2026

Jacob Ereste: Kepekaan Spiritual Menjadi Benteng Melawan Korupsi dan Ketidakadilan

Keterangan foto: Jacob Ereste menilai kepekaan spiritual menjadi benteng penting dalam melawan korupsi dan menjaga keadilan sosial.

kawankitanews.web.id – Budayawan dan pemikir sosial Jacob Ereste menegaskan bahwa kepekaan spiritual merupakan benteng utama dalam mencegah korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.

Menurutnya, manusia yang mampu menjaga suara hati dan nilai-nilai moral akan lebih kuat menghadapi godaan kepentingan duniawi.

Dalam refleksi yang ditulis di Banten pada 16 Juli 2026, Jacob menyampaikan bahwa tantangan terbesar kehidupan modern bukan sekadar persoalan ekonomi atau politik, tetapi melemahnya integritas dan keberanian untuk membela kebenaran.

Ia menilai setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi saksi atas kebenaran. Karena itu, seseorang tidak boleh memilih diam ketika menyaksikan penyimpangan, apalagi jika mengetahui fakta yang dapat merugikan kepentingan masyarakat.

Menurut Jacob, seseorang yang mengetahui suatu tindakan salah tetapi tetap melakukannya demi jabatan, kekuasaan, materi, atau keuntungan pribadi telah mengabaikan suara hati dan akal sehat. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk konflik batin yang lahir ketika nilai spiritual dikalahkan oleh kepentingan duniawi.

“Pengkhianatan terbesar adalah ketika seseorang mengkhianati hati nuraninya sendiri demi kepentingan sesaat,” tulis Jacob dalam refleksinya.

Jacob menjelaskan bahwa korupsi dan ketidakadilan tidak hanya lahir karena lemahnya sistem hukum, tetapi juga akibat menurunnya kesadaran spiritual. Ketika etika, moral, dan akhlak tidak lagi menjadi pedoman, penyimpangan akan semakin mudah terjadi di berbagai bidang kehidupan.

Ia juga menyoroti pengaruh materialisme, kapitalisme, dan liberalisme yang dinilainya telah mengubah cara pandang sebagian masyarakat dalam memaknai kesuksesan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan kini lebih sering dilihat dari kekayaan, jabatan, dan citra, bukan dari kejujuran, integritas, serta kepedulian terhadap sesama.

Dalam pandangannya, kepekaan spiritual dapat diukur dari kemampuan seseorang merasakan penderitaan orang lain dan keberaniannya bertindak untuk mencegah terjadinya kezaliman.

Sikap peduli terhadap sesama, kata Jacob, merupakan wujud nyata dari tanggung jawab sosial yang harus dimiliki setiap manusia.

Jacob juga mengingatkan bahwa budaya gotong royong mulai terkikis oleh sikap individualistis dan persaingan yang semakin ketat.

Akibatnya, banyak orang rela menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurutnya, pembangunan yang hanya mengutamakan aspek material tidak akan mampu menciptakan keadilan apabila tidak disertai penguatan moral dan integritas.

Di akhir refleksinya, Jacob Ereste menegaskan bahwa keteguhan spiritual akan melahirkan keberanian untuk tetap berjalan di jalan kebenaran, meski menghadapi berbagai tekanan dan tantangan.

Ia meyakini bahwa orang yang mampu menjaga integritas akan menjadi bagian penting dalam membangun bangsa yang lebih adil, beretika, dan bermartabat.

Bagi Jacob, kepekaan spiritual bukan hanya menjadi kekuatan pribadi, tetapi juga menjadi benteng sosial untuk mencegah korupsi, melawan ketidakadilan, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.(Kontributor Yacob)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *