kawankitanews.web.id – Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mempromosikan kekayaan flora nasional di tingkat internasional dengan berpartisipasi dalam Malaysia Highest Flower Exhibition 2026 yang berlangsung di Resort World Awana, Genting Highland, Malaysia, pada 3–10 Juni 2026.
Meski tidak membawa satu pun anggrek langsung dari Indonesia, delegasi Tanah Air tetap hadir untuk memperkenalkan potensi anggrek Nusantara kepada dunia. Duta Indonesia dalam ajang tersebut, Rudy T. Mintarto, menegaskan bahwa kehadiran Indonesia merupakan bagian dari upaya menjaga eksistensi anggrek nasional di pasar internasional.(30/05/26)
Menurut Rudy, kendala utama yang membuat peserta Indonesia tidak dapat membawa tanaman langsung dari Tanah Air adalah proses kepabeanan yang rumit serta biaya yang cukup besar untuk pengiriman tanaman hidup ke luar negeri.
“Bukan karena Indonesia tidak memiliki anggrek berkualitas. Justru Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman anggrek terbesar di dunia. Namun prosedur administrasi dan kepabeanan menjadi tantangan yang masih harus dihadapi,” ujarnya.
Meski demikian, Rudy tetap membawa semangat nasionalisme dengan mengibarkan Bendera Merah Putih sebagai simbol kehadiran Indonesia di tengah peserta dari berbagai negara. Ia berharap dunia internasional tetap mengenal Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman anggrek terbaik di dunia.
Dalam pameran tersebut, Rudy berkolaborasi dengan Win Selamat Riyadi serta TB Farhan Davin, penata taman asal Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Mereka menghadirkan stan bertema budaya Jawa Timur yang memadukan unsur seni, budaya, dan keindahan tanaman hias.
Panitia penyelenggara turut memberikan dukungan berupa fasilitas transportasi, akomodasi, serta kebutuhan pameran sehingga delegasi Indonesia dapat berpartisipasi secara maksimal.
Pada area pameran seluas 32 meter persegi, Indonesia menampilkan sekitar 300 pot anggrek Dendrobium, 150 pot berbagai jenis anggrek, 150 tangkai anggrek Aranda, serta 300 bunga potong yang seluruhnya disiapkan di lokasi penyelenggaraan. Nilai keseluruhan tanaman yang digunakan mencapai sekitar 8.000 Ringgit Malaysia atau setara Rp25 juta.
Rudy menilai ajang internasional seperti Malaysia Highest Flower Exhibition tidak hanya menjadi sarana kompetisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang besar bagi pelaku usaha tanaman hias. Menurutnya, pameran semacam ini mampu mempertemukan petani, kolektor, eksportir, hingga investor dari berbagai negara.
Ia mencontohkan keberhasilan pameran anggrek di Kota Batu, Jawa Timur, yang mampu mencatat transaksi hingga Rp6 miliar dalam waktu satu pekan. Karena itu, ia optimistis peluang perdagangan anggrek di tingkat internasional memiliki potensi yang jauh lebih besar.
Selama hampir 15 tahun mengikuti berbagai pameran bunga internasional, Rudy mengaku terus berupaya menjaga nama Indonesia di komunitas pecinta anggrek dunia.
Meskipun dukungan yang diterima belum selalu maksimal, ia tetap berkomitmen mempromosikan kekayaan hayati Indonesia.
“Saya ingin Merah Putih tetap berkibar bersama negara-negara lain.
Dunia harus tahu bahwa Indonesia memiliki kekayaan anggrek yang luar biasa dan layak menjadi bagian penting dari industri florikultura internasional,” tegasnya.
Partisipasi Indonesia dalam Malaysia Highest Flower Exhibition 2026 menjadi bukti bahwa promosi budaya dan kekayaan hayati bangsa tetap dapat berjalan meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Melalui semangat para pegiat anggrek, Indonesia terus menjaga eksistensinya di panggung internasional dan memperkenalkan keindahan anggrek Nusantara kepada dunia.(Geng)

