Dugaan Pencabulan Santri di Surabaya Jadi Sorotan, FPKS Jatim Minta Lingkungan Aman untuk Anak

Lilik Hendarwati meminta penguatan perlindungan anak usai kasus dugaan pencabulan santri di Surabaya.
Lilik Hendarwati meminta penguatan perlindungan anak usai kasus dugaan pencabulan santri di Surabaya.

kawankitanews.web.id // Kasus dugaan pencabulan terhadap tujuh santri laki-laki di Surabaya yang diduga dilakukan seorang oknum guru ngaji menjadi sorotan berbagai pihak. Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati,

meminta seluruh elemen masyarakat memperkuat perlindungan anak dan menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang mereka.

Lilik menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus yang terjadi di sebuah yayasan pendidikan keagamaan di kawasan Genteng Kali, Surabaya tersebut.

Ia menilai tindakan pelaku tidak hanya merusak masa depan korban, tetapi juga mencederai kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan keagamaan.

“Kasus ini sangat memprihatinkan dan menjadi alarm serius bagi semua pihak agar perlindungan anak benar-benar diperkuat, terutama di lingkungan pendidikan dan keagamaan,” ujar Lilik, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, anak-anak harus mendapatkan jaminan rasa aman di setiap lingkungan, baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, maupun ruang sosial lainnya.

Karena itu, Lilik meminta lembaga pendidikan keagamaan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap seluruh aktivitas pengajar dan pengelola lembaga agar tidak terjadi penyalahgunaan kepercayaan maupun relasi kuasa terhadap anak.

“Tempat mengaji harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan penuh keteladanan. Anak-anak datang untuk belajar agama dan akhlak, sehingga mereka wajib mendapatkan perlindungan,” tegasnya.

Selain itu, Lilik juga meminta Pemerintah Kota Surabaya bersama instansi terkait segera memberikan pendampingan psikologis dan perlindungan hukum kepada para korban agar trauma yang dialami tidak berdampak panjang terhadap masa depan mereka.

Ia menilai penanganan korban harus menjadi prioritas utama selain proses hukum terhadap pelaku.

“Korban harus mendapatkan pendampingan secara menyeluruh agar mereka dapat pulih secara mental dan tetap memiliki masa depan yang baik,” katanya.

Lilik juga mengajak masyarakat lebih peduli terhadap isu perlindungan anak dengan berani melapor apabila menemukan indikasi kekerasan atau perilaku mencurigakan di lingkungan sekitar.

Menurutnya, kepedulian sosial menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kekerasan seksual terhadap anak.

Di sisi lain, ia meminta para orang tua lebih aktif membangun komunikasi terbuka dengan anak agar anak merasa nyaman bercerita ketika mengalami perlakuan yang tidak pantas.

“Orang tua harus hadir sebagai tempat paling aman bagi anak untuk bercerita dan meminta perlindungan,” ujarnya.

Lilik turut menyoroti pentingnya pengawasan terhadap konten pornografi di media sosial dan internet yang mudah diakses anak-anak. Ia menilai pengaruh negatif dari konten digital perlu diantisipasi bersama melalui pengawasan keluarga dan edukasi yang tepat.

“Perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk menjaga mereka dari pengaruh negatif lingkungan dan media digital,” tambahnya.

Diketahui, Polrestabes Surabaya sebelumnya mengungkap dugaan pelecehan seksual terhadap tujuh santri laki-laki yang diduga dilakukan seorang guru ngaji berinisial MZ (22). Polisi saat ini masih mendalami kasus tersebut dan memproses pelaku sesuai ketentuan hukum yang berlaku.(Fajar)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *