Peradaban Global Mengalami Guncangan, Jacob Ereste Dorong Penguatan Spiritualitas

Jacob Ereste menyampaikan pandangannya tentang pentingnya penguatan spiritualitas di tengah guncangan peradaban global.
Jacob Ereste menyampaikan pandangannya tentang pentingnya penguatan spiritualitas di tengah guncangan peradaban global.

kawankitanews.web.id — Pemikir budaya dan spiritual Jacob Ereste menilai peradaban global saat ini sedang mengalami guncangan akibat tekanan materialisme, perkembangan teknologi yang pesat, serta perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Ia mendorong penguatan spiritualitas sebagai solusi untuk menjaga keseimbangan hidup manusia di tengah dinamika tersebut.

Jacob menegaskan bahwa setiap umat beragama memiliki potensi spiritual yang dapat dikembangkan tanpa harus terhalang perbedaan keyakinan.

Ia menyebut, kolaborasi lintas agama justru dapat memperkaya cara manusia mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat ketahanan batin.

“Spiritualitas menjadi fondasi penting agar manusia tidak terjebak dalam nilai-nilai material yang dapat menggerus etika, moral, dan akhlak,” ujar Jacob dalam keterangannya di Banten, Sabtu (25/4/2026).

Ia menjelaskan, keyakinan terhadap nilai-nilai ilahiyah mampu memberi ketenangan dan arah hidup di tengah tekanan kehidupan modern. Tanpa sentuhan spiritual, menurutnya, manusia berisiko kehilangan makna hidup meski telah mencapai kemajuan materi.

Jacob juga mengaitkan pandangannya dengan berbagai teori peradaban dunia.

Ia menyinggung pemikiran Samuel P. Huntington dalam buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order yang memprediksi potensi konflik antarperadaban.

Namun, pandangan itu mendapat kritik dari Edward Said yang menilai peradaban bersifat terbuka dan saling berinteraksi.

Selain itu, ia juga mengutip Francis Fukuyama melalui karya The End of History and the Last Man yang menyebut demokrasi liberal sebagai puncak evolusi ideologi politik. Meski demikian,

Jacob menilai Fukuyama juga mengingatkan tentang potensi manusia kehilangan tujuan hidup akibat dominasi kepuasan material.

Dalam konteks perkembangan teknologi, Jacob merujuk pada teori gelombang peradaban dari Alvin Toffler yang membagi peradaban ke dalam era agraris, industri, dan informasi.

Ia menilai kemajuan teknologi dan arus informasi tidak selalu memicu benturan peradaban,

melainkan lebih pada guncangan yang harus diantisipasi dengan kesiapan mental dan spiritual.

Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menjadi pelopor kebangkitan spiritual dunia.

Nilai religiusitas dan keberagaman yang hidup di tengah masyarakat dinilai mampu memperkuat integritas bangsa sekaligus memberi kontribusi bagi peradaban global.

Jacob menegaskan, penguatan spiritualitas tidak hanya menjadi kebutuhan individu,

tetapi juga menjadi agenda kolektif untuk membangun peradaban dunia yang lebih harmonis dan berkelanjutan.

“Manusia membutuhkan keseimbangan antara kemajuan materi dan kedalaman spiritual agar tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan,” pungkasnya.(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *