Kawankitanews web.id– Keterbatasan ruang kelas membuat SDN Sumber Dumpyong 2, Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso, harus mengatur kegiatan belajar mengajar secara bergantian. Di tengah kondisi tersebut, para guru mengandalkan iuran bersama untuk memenuhi sejumlah kebutuhan kegiatan dan perbaikan fasilitas sekolah.
SDN Sumber Dumpyong 2 yang berada di Jalan Tancak Kembar, Desa Sumber Dumpyong, melayani siswa kelas 1 hingga kelas 6. Namun, sekolah tersebut hanya memiliki tiga ruang kelas.
Kepala SDN Sumber Dumpyong 2, Akhmad Rifa’i, S.Pd, mengatakan keterbatasan ruang membuat pihak sekolah harus mengatur penggunaan kelas agar seluruh siswa tetap mendapatkan pembelajaran.
“Kami kesulitan mengajar karena ruang guru menjadi satu dengan ruang murid. Belajar juga harus bergantian karena ruang kelas sangat terbatas,” ujar Rifa’i saat dikonfirmasi pada 6 Agustus 2026.
Guru Iuran Rp50 Ribu untuk Kebutuhan Sekolah
Keterbatasan fasilitas juga mendorong para guru melakukan gotong royong untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Mereka mengumpulkan iuran secara bertahap ketika sekolah membutuhkan biaya untuk kegiatan maupun perbaikan fasilitas.
Rifa’i menjelaskan setiap guru biasanya memberikan iuran sebesar Rp50 ribu secara bertahap hingga jumlah dana yang dibutuhkan terpenuhi.
“Setiap ada kegiatan atau kebutuhan perbaikan sekolah, guru harus iuran Rp50 ribu secara bertahap sampai target kebutuhan tercapai, Mas,” katanya.
Iuran tersebut menjadi salah satu bentuk upaya internal para guru untuk membantu menjaga kegiatan sekolah tetap berjalan di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
Ruang Guru Menyatu dengan Ruang Belajar
Selain kekurangan ruang kelas, SDN Sumber Dumpyong 2 juga menghadapi keterbatasan ruang pendukung. Ruang guru masih menyatu dengan ruang belajar siswa.
Kondisi tersebut membuat guru harus menjalankan pekerjaan administrasi di ruangan yang sama dengan kegiatan pembelajaran. Situasi itu juga menuntut pihak sekolah mengatur aktivitas guru dan siswa agar proses belajar tetap berlangsung.
Meskipun menghadapi keterbatasan, para guru tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dan mendampingi siswa setiap hari.
Kepala Sekolah Minta Pemerintah Turun Melihat Kondisi Sekolah
Rifa’i berharap Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Dinas Pendidikan memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah. Ia meminta instansi terkait datang langsung untuk melihat kebutuhan SDN Sumber Dumpyong 2.
“Kami berharap ada perhatian dari dinas terkait dan pemerintah agar anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman,” ujarnya.
Rifa’i juga mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai kepala sekolah, dirinya belum menerima kunjungan langsung dari instansi terkait untuk melihat kondisi sekolah.
“Sejak saya menjadi kepala sekolah di sini, belum pernah ada dinas terkait ataupun pemerintah yang datang melihat langsung kondisi sekolah ini,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah melakukan verifikasi lapangan agar kebutuhan sekolah dapat diketahui secara langsung dan mendapatkan penanganan sesuai prioritas.
Berharap Sarana Pendidikan Diperbaiki
Kondisi SDN Sumber Dumpyong 2 menunjukkan masih adanya tantangan dalam pemerataan sarana pendidikan di wilayah pelosok. Keterbatasan ruang kelas dan fasilitas pendukung dapat memengaruhi kenyamanan proses belajar mengajar.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah dapat melakukan pengecekan dan menyusun langkah konkret untuk meningkatkan fasilitas sekolah, termasuk penambahan ruang kelas dan ruang pendukung bagi guru.
Para guru tetap berupaya memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada siswa meski menghadapi keterbatasan. Mereka berharap dukungan pemerintah dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak dan nyaman bagi seluruh siswa SDN Sumber Dumpyong 2 (Aal)

