KawankitaNews web .id
MAKIAN BARAT, 12 Agustus 2026
— Pantai Togurua, Desa Malapa, pagi ini berubah menjadi lautan semangat dan kehangatan. Antusiasme warga, khususnya para ibu-ibu, begitu memukau dalam perayaan tradisi “Mandi Safar” sekaligus silaturahmi Keluarga Besar Malapa yang digelar oleh pemuda dan tokoh adat.
Ratusan ibu-ibu dari berbagai RT di Desa Malapa hadir sejak pagi, membawa bekal, tikar, dan semangat penuh untuk mendukung anak-anak dan cucu yang ikut serta. Namun yang paling mencuri pandang adalah kehadiran Ibu-Ibu “Todon” Desa Malapa. Secara kompak mereka mengenakan pakaian berwarna merah bertuliskan “ANAK KOMPLEKS” di bagian depan.
Warna merah yang mendominasi bibir pantai bukan sekadar warna pakaian — melainkan lambang semangat, keberanian, dan cinta kasih yang menyatu.
“Kita sengaja pakai baju merah bertuliskan ‘Anak Kompleks’ supaya anak-anak lihat, orang tua dukung penuh kegiatan ini. Ini bukan cuma acara mandi, tapi acara untuk mempererat tali silaturahmi torang orang Malapa,” ujar salah satu anggota Ibu-Ibu Todon.
Tak hanya tampil serasi, Ibu-Ibu Todon juga tampil bekerja.
Di dapur umum mereka sibuk menyiapkan makanan untuk ratusan peserta, mengatur ketertiban, dan tak segan ikut membersihkan pantai setelah acara selesai. Baju merah bukan sekadar seragam, melainkan tanda: di Malapa, kalau ibu-ibu sudah bersatu, tak ada yang mustahil.
Kepala Desa Malapa pun tak segan menyampaikan apresiasinya. “Saya bangga lihat Ibu-Ibu Malapa, apalagi Ibu-Ibu Todon. Kehadiran dan warna merah ‘Anak Kompleks’ di Pantai Togurua hari ini membuktikan bahwa di Malapa, kalau baku kerja, semua bisa jadi indah dan meriah.”
SILATURAHMI BESAR : “MARI TORANG RAME-RAME BATOBO, BERSIHKAN LINGKUNGAN DAN BERSIHKAN HATI.”
Tak hanya warga Desa Malapa, Keluarga Besar Malapa dari berbagai daerah — Bacan, Malifut, Tofu, hingga Wailoa — turut hadir memenuhi Pantai Togurua. Acara yang sekaligus menjadi jemputan tamu dari Wailoa ini dibuka dengan doa bersama, dilanjutkan sambutan, dan diisi berbagai kegiatan: tarik tambang, bola voli, makan bersama, hingga ramah tamah penuh tawa.
Tema yang diusung begitu dalam: “Mari Torang Rame-Rame Batobo untuk Membersihkan Diri Menuju Satu Hati.”
“Batobo bersama bukan sekadar gotong royong membersihkan sampah di pantai. Tapi juga membersihkan diri dari perbedaan, ego, dan salah paham, agar keluarga besar bisa kembali bersatu dalam satu hati,” demikian pesan dari perwakilan keluarga dalam sambutannya.
Kegiatan ini mengajarkan makna mendalam: sebelum membersihkan lingkungan, kita harus membersihkan hati dulu. Kalau hati sudah bersih dan bersatu, pantai pun terjaga, silaturahmi pun terjaga, dan nama baik keluarga Malapa pun tetap terjaga.
Anak-anak hingga orang tua tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Pantai Togurua yang biasanya sepi, hari ini bergema tawa dan cerita, menjadi saksi bahwa keluarga besar Malapa masih teguh memegang satu janji: tak lupa asal, tak lupa saudara, tetap bersatu dalam satu hati.
Acara ditutup dengan foto bersama dan komitmen bersama untuk terus menjaga Pantai Togurua tetap bersih, serta menjaga persatuan keluarga selamanya.
“Ibu-Ibu Malapa hadir, Ibu-Ibu Todon mewarnai. Mandi Safar makin berkah, Malapa makin satu hati.”
Mari torang rame-rame batobo. Untuk pantai yang bersih, untuk hati yang satu.”
Penulis : Iswand Kaliky
Editor : “Bung”

