9 Agustus 2026

Lewat Analogi Gerhana, Jacob Ereste Soroti Makna Matahari Kembar dalam Politik

Keterangan foto: Jacob Ereste menyoroti makna istilah matahari kembar dalam politik melalui analogi fenomena gerhana.

kawankitanews.web.id  – Penulis dan pemerhati sosial Jacob Ereste menyoroti istilah “matahari kembar” dalam politik melalui analogi fenomena gerhana matahari dan gerhana bulan. Ia menggunakan fenomena alam tersebut untuk mengajak masyarakat melihat persoalan kekuasaan dari perspektif spiritual dan filosofis.

Jacob menyampaikan pandangannya melalui tulisan berjudul “Matahari Kembar Dalam Bayang-bayang Gerhana Matahari dan Rembulan” yang ia tulis di Pecenongan pada 23 Juli 2026.

Dalam tulisannya, Jacob menegaskan bahwa secara faktual tidak ada dua matahari. Ia menjelaskan bahwa matahari tetap tunggal, sedangkan fenomena gerhana dapat menciptakan kondisi tertentu yang membuat cahaya matahari atau bulan tertutup oleh benda langit lainnya.

Jacob kemudian menjadikan fenomena tersebut sebagai analogi untuk memahami istilah “matahari kembar” dalam politik. Menurutnya, istilah itu muncul sebagai metafora ketika dua figur atau dua kekuatan dianggap memiliki pengaruh besar dan berada dalam satu ruang kekuasaan.

Ia menilai masyarakat tidak seharusnya memahami istilah tersebut secara harfiah. Jacob justru mengaitkan simbol matahari tunggal dengan keyakinan tentang Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa, serta Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Jacob juga melihat fenomena gerhana sebagai pengingat bagi manusia bahwa kehidupan memiliki siklus terang dan gelap. Ia menilai kondisi tersebut dapat memberikan pelajaran bahwa manusia tidak selalu menghadapi kehidupan dalam keadaan yang stabil dan terang.

Dalam perspektif spiritual yang ia gunakan, Jacob memaknai bulan sebagai simbol batin, kelembutan perasaan, intuisi, dan energi feminin. Sementara itu, ia memandang matahari sebagai simbol logika, ego, dan energi maskulin.

Jacob menjelaskan bahwa gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi permukaan bulan. Sebaliknya, gerhana matahari terjadi ketika bulan berada di antara matahari dan bumi sehingga cahaya matahari yang terlihat dari bumi tertutup sebagian atau seluruhnya.

Dari fenomena tersebut, Jacob kemudian mengkritik penggunaan istilah “matahari kembar” dalam politik. Ia menilai istilah tersebut dapat mencerminkan cara pandang yang terlalu mengandalkan logika dan mengabaikan dimensi spiritual.

“Jadi istilah matahari kembar dalam politik itu cuma sekadar imajinasi yang pongah terhadap kecerdasan spiritual akibat logika (intelektual) keblinger dalam menautkan dimensi spiritual dengan intelektual yang abai terhadap nilai-nilai spiritual,” tulis Jacob.

Jacob berpendapat bahwa kemampuan intelektual manusia memiliki batas dalam memahami seluruh rahasia kehidupan. Menurutnya, manusia tidak dapat menjangkau seluruh dimensi spiritual hanya dengan mengandalkan kemampuan akal dan logika.

Selain membahas kekuasaan, Jacob juga mengkritik karakter bahasa politik. Ia menilai bahasa politik sering kali dipenuhi kepentingan dan intrik untuk memenangkan persaingan.

Menurut Jacob, bahasa politik memiliki karakter yang berbeda dengan kesusastraan. Ia melihat kesusastraan sebagai ruang yang dapat membantu manusia memahami kehidupan melalui simbol dan refleksi, sedangkan politik lebih sering menggunakan narasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kekuasaan.

Jacob kemudian menyimpulkan bahwa istilah “matahari kembar” dalam politik dapat menjadi metafora tentang perebutan pengaruh dan kekuasaan. Namun, ia mengingatkan bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan dalam mengendalikan kehidupan.

Melalui analogi gerhana, Jacob mengajak masyarakat memahami bahwa kekuasaan manusia tidak bersifat mutlak. Ia menilai fenomena alam dapat menjadi pengingat bahwa terdapat kekuatan yang lebih besar daripada kekuasaan manusia.

Jacob berharap masyarakat dapat melihat istilah “matahari kembar” secara lebih kritis dan tidak hanya memahaminya dari perspektif politik. Ia mengajak masyarakat mempertimbangkan dimensi spiritual dan nilai moral dalam memahami dinamika kekuasaan.(Kontributor Yacob)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *