Araghchi: Iran Tidak Ganggu Pelayaran, AS yang Ciptakan Krisis di Selat Hormuz

Abbas Araghchi saat menyampaikan pernyataan terkait situasi Selat Hormuz.
Abbas Araghchi saat menyampaikan pernyataan terkait situasi Selat Hormuz.

kawankitanews.web.id – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan Iran tidak mengganggu aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz. Sebaliknya, ia menuding Amerika Serikat menjadi pihak yang memicu krisis dan ketegangan di jalur strategis tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak global.

Dalam keterangannya, Araghchi mengatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal dagang internasional. Namun, ia meminta seluruh kapal komersial bekerja sama dengan angkatan laut Iran saat melintas di kawasan tersebut.

“Menurut pandangan kami, Selat Hormuz terbuka bagi semua kapal dagang, tetapi mereka harus bekerja sama dengan angkatan laut kami,” ujarnya.

Araghchi juga membantah tudingan bahwa Iran menciptakan hambatan pelayaran di kawasan Teluk. Ia justru menuding Amerika Serikat melakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sehingga memicu gangguan distribusi dan ketegangan regional.

“Kami tidak menciptakan hambatan apa pun. Amerikalah yang menciptakan blokade, dan saya berharap situasi ini berakhir dengan dicabutnya blokade ilegal tersebut,” tegasnya.

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran menyusul gagalnya pembicaraan antara Washington dan Teheran beberapa waktu lalu.

Kebijakan itu sempat memengaruhi lalu lintas pelayaran internasional dan distribusi energi dunia.

Sebelumnya, Iran juga pernah menyatakan membuka jalur pelayaran Selat Hormuz untuk kapal komersial selama masa gencatan senjata regional berlangsung.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi lintasan utama pengiriman minyak dunia.

Setiap ketegangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global serta harga energi internasional.(Red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *