kawankitanews.web.id — Ujian kehidupan tidak selalu menghadirkan jalan yang mudah. Dalam kondisi paling sulit sekalipun, manusia tetap memiliki pilihan untuk terus melangkah atau menyerah. Jacob Ereste memilih untuk terus berjalan.
Ia meyakini bahwa seseorang justru dapat menemukan jalan baru ketika berani melangkah meski belum melihat arah di hadapannya.
Pandangan tersebut Jacob tuangkan dalam refleksi bertajuk “Teruslah Berjalan Meskipun di Hadapanmu Tidak Ada Jalan” yang ditulis di Banten, 2 September 2026.
Melalui tulisannya, Jacob berbicara tentang perjuangan, kekalahan, usia, ikhtiar, tawakal, serta keberanian manusia menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Jacob menggambarkan kehidupan sebagai perjalanan yang tidak selalu berakhir dengan kemenangan.
Seseorang bisa mengalami kekalahan secara fisik, tetapi kekalahan tersebut tidak semestinya memadamkan semangat dalam dimensi spiritual.
Menurut Jacob, manusia harus tetap berikhtiar sampai batas akhir perjuangannya.
Ia menilai seseorang perlu menghadapi setiap ujian dengan kesadaran dan tawakal, termasuk ketika hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan.
Bagi Jacob, sejarah kehidupan seseorang tidak hanya mencatat hasil akhir. Sejarah juga mencatat bagaimana seseorang menghadapi perjuangan. Karena itu,
ia menekankan pentingnya mempertahankan keberanian dan tidak menyerah sebelum perjuangan benar-benar berakhir.
Jacob juga mengajak manusia menghargai waktu yang dimiliki.
Ia menyadari bahwa usia terus berjalan dan pada akhirnya setiap manusia akan menghadapi kematian.
Kesadaran tersebut justru mendorongnya untuk memanfaatkan sisa kehidupan dengan lebih bermakna.
Ia mengibaratkan gairah hidup seperti baterai yang terus menyala.
Meski usia semakin tua, semangat untuk menjalani kehidupan dan melakukan sesuatu yang bermanfaat menurutnya tidak boleh ikut padam.
Pengalaman melihat sejumlah rekan sebayanya meninggal dunia membuat Jacob semakin menyadari bahwa kesempatan hidup merupakan sesuatu yang berharga.
Ia memandang tambahan usia sebagai kesempatan untuk menjalani babak kehidupan yang harus diisi dengan karya dan manfaat.
Dalam refleksinya, Jacob juga menggambarkan kehidupan sebagai sebuah pertarungan. Seseorang dapat menghadapi berbagai benturan, mengalami luka, kelelahan, bahkan kekalahan.
Namun, semua pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memahami kesalahan dan memperbaiki langkah.
Ia menilai kekalahan tidak selalu menjadi sesuatu yang memalukan.
Seseorang tetap dapat menunjukkan sikap kesatria ketika menerima hasil perjuangan dengan lapang dada, selama sebelumnya telah berusaha secara sungguh-sungguh.
Filosofi pantang menyerah tersebut berakar dari pesan Datuknya ketika Jacob hendak merantau. Sang Datuk berpesan agar ia terus berjalan meskipun di hadapannya tidak terdapat jalan.
Pesan itu kemudian menjadi salah satu prinsip hidup Jacob. Ia memaknai berjalan sebagai keberanian untuk menghadapi ketidakpastian sekaligus menciptakan kemungkinan baru.
Menurutnya, seseorang tidak harus menunggu jalan tersedia untuk mulai bergerak. Dengan terus melangkah, seseorang justru dapat menemukan jalan yang belum pernah dilalui orang lain.
Prinsip tersebut juga tercermin dalam kebiasaannya ketika meninggalkan keluarga maupun sahabat. Ia terbiasa mengucapkan kalimat sederhana, “aku jalan dahulu ya.”
Bagi Jacob, kalimat tersebut memiliki makna filosofis. Ia menyadari bahwa manusia tidak pernah mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi setelah meninggalkan suatu tempat.
Karena itu, setiap pertemuan dan perpisahan perlu dijalani dengan kesadaran.
Jacob juga menyadari keterbatasan manusia dalam mengendalikan masa depan.
Seseorang dapat menyusun rencana dengan baik, tetapi kondisi alam, cuaca, dan berbagai kejadian lain dapat mengubah rencana tersebut.
Ia melihat ketidakpastian itu sebagai pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Sementara itu, Tuhan memiliki kuasa atas alam semesta dan seluruh kehidupan di dalamnya.
Karena itu, Jacob menempatkan ikhtiar dan tawakal sebagai bagian penting dalam menjalani kehidupan.
Manusia harus berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Meski memasuki usia lanjut, Jacob tetap memandang kehidupan sebagai kesempatan yang masih terbuka.
Ia ingin menggunakan sisa usia untuk memberikan manfaat, setidaknya bagi dirinya sendiri dan sebisa mungkin bagi orang lain.
Refleksi Jacob tersebut menegaskan bahwa perjalanan hidup tidak hanya ditentukan oleh kemenangan.
Kekalahan, kegagalan, dan ujian juga dapat membentuk karakter seseorang.
Bagi Jacob Ereste, manusia tidak boleh berhenti hanya karena jalan di depan belum terlihat. Selama masih memiliki kesempatan untuk melangkah, manusia harus terus bergerak, belajar dari pengalaman, memperbaiki kesalahan, dan menjaga harapan.
Semangat itulah yang menjadi inti perjalanan hidup yang ia tawarkan:
terus berjalan meskipun tidak ada jalan, karena langkah yang konsisten dapat membuka jalan baru yang sebelumnya tidak pernah terlihat.(Kontributor Yacob)

