11 Oktober 2026

Kegaduhan Politik Tak Kunjung Reda, Jacob Ereste Ingatkan Ancaman bagi Peradaban Indonesia

Jacob Ereste mengingatkan dampak kegaduhan politik terhadap masa depan peradaban Indonesia.

kawankitanews.web.id— Pengamat sosial dan penulis Jacob Ereste menyoroti iklim politik Indonesia yang dinilainya semakin gaduh dan tegang. Menurutnya, kegaduhan politik yang terus berlangsung tanpa jeda dapat memberikan dampak buruk terhadap pembangunan kehidupan berbangsa dan mengancam peradaban masa depan Indonesia.

Pandangan tersebut Jacob sampaikan melalui tulisan berjudul “Kegaduhan Politik yang Selalu Meregang dan Menegang Akan Merusak Peradaban Masa Depan Indonesia”, yang ditulis di Banten pada 28 Agustus 2026.

Jacob menilai dinamika politik nasional saat ini terlalu banyak berkutat pada perebutan dan mempertahankan kekuasaan. Ia menyoroti berbagai kepentingan politik yang muncul dalam proses pemerintahan, termasuk dinamika koalisi besar dan kepentingan politik di sekitar pergantian atau perombakan kabinet.

Menurut Jacob, kondisi tersebut dapat menggeser perhatian dari persoalan yang lebih substansial, yakni bagaimana pemerintah dan lembaga negara membangun kehidupan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat.

Jacob Soroti RUU Perampasan Aset

Dalam tulisannya, Jacob juga menyinggung rencana pengesahan RUU Perampasan Aset serta wacana pemberian hukuman berat bagi pelaku korupsi.

Ia mempertanyakan proses politik yang terus menunda pembahasan aturan tersebut. Menurut Jacob, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pemberantasan korupsi berjalan secara serius dan tidak sekadar menjadi wacana politik.

Jacob menilai persoalan korupsi tidak hanya berkaitan dengan kerugian negara, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara dan para pejabat publik.

Ia juga mengkritik hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat. Menurutnya, munculnya berbagai tuntutan agar DPR dan MPR dibubarkan menunjukkan adanya persoalan serius dalam hubungan kepercayaan antara rakyat dan lembaga perwakilan.

Kritik terhadap Partai Politik

Jacob turut menyoroti tata kelola partai politik di Indonesia. Ia menilai sejumlah partai masih menghadapi persoalan dalam membangun kaderisasi politik yang kuat dan berkelanjutan.

Menurut Jacob, partai politik seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan untuk memperoleh kekuasaan. Partai juga perlu membangun pendidikan politik, memperkuat ideologi, serta menyiapkan kader yang memiliki integritas dan kapabilitas.

Ia menilai loyalitas dan kepatuhan terhadap elite partai terkadang lebih mendapatkan perhatian dibandingkan komitmen, integritas, dan kemampuan seorang kader.

Kondisi tersebut, menurut Jacob, berpotensi membuat politik kehilangan orientasi terhadap kepentingan masyarakat. Persaingan politik kemudian lebih banyak berfokus pada posisi, pengaruh, dan kekuasaan.

Pentingnya Pendidikan Politik

Jacob menilai partai politik membutuhkan sistem pendidikan dan kaderisasi yang mampu membentuk politisi dengan kemampuan sekaligus etika yang kuat.

Ia menggambarkan kondisi politik saat ini seperti arena pertarungan bebas ketika para kader lebih sibuk membangun daya tawar pribadi dibandingkan memperkuat keselarasan dengan visi dan ideologi partai.

Menurut Jacob, partai politik seharusnya mengembangkan budaya politik yang mengedepankan etika, moralitas, integritas, serta kepentingan masyarakat.

Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan ruang yang lebih luas kepada generasi muda untuk memperoleh pendidikan dan pengalaman politik. Dengan kaderisasi yang sehat, partai dapat melahirkan pemimpin yang tidak hanya mampu memenangkan kontestasi politik, tetapi juga memahami tanggung jawab moral setelah memperoleh kekuasaan.

Gerakan Rakyat Tanpa Partai

Dalam tulisannya, Jacob mengingat kembali gagasan almarhum Dolly Yatim yang pernah mengkampanyekan “Gerakan Rakyat Tanpa Partai”.

Jacob menyebut gagasan tersebut sebagai bentuk kritik terhadap praktik politik yang dinilai terlalu berorientasi pada perebutan kekuasaan. Menurutnya, kritik tersebut perlu ditempatkan sebagai bahan refleksi mengenai sejauh mana partai politik telah menjalankan fungsi pendidikan dan pencerdasan masyarakat.

Bagi Jacob, demokrasi seharusnya tidak berhenti pada mekanisme mendapatkan kekuasaan secara legal. Demokrasi juga harus mampu membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, damai, dan berkeadilan.

Kegaduhan Politik Ancam Peradaban

Jacob akhirnya mengingatkan bahwa kegaduhan politik yang terus berulang dapat membawa dampak jangka panjang bagi Indonesia.

Ia menilai masyarakat membutuhkan proses politik yang memberikan pembelajaran, bukan sekadar pertarungan untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

“Kegaduhan politik yang selalu meregang dan menegang di Indonesia akan merusak peradaban masa depan,” menjadi inti pandangan Jacob dalam tulisannya.

Menurut dia, politik seharusnya menjadi sarana untuk membangun kehidupan bersama. Para elite politik dan partai perlu mengembalikan orientasi kekuasaan kepada kepentingan rakyat serta memastikan demokrasi menghasilkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, perbaikan politik tidak hanya membutuhkan perubahan aturan, tetapi juga perubahan budaya. Politik yang mengedepankan etika, pendidikan, integritas, dan kepentingan publik menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga masa depan peradaban Indonesia.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *