8 Agustus 2026

Jacob Ereste Kritik Kader Karbitan, Dinasti Politik Dinilai Ancam Regenerasi Bangsa

Jacob Ereste menyoroti bahaya kader karbitan dan dinasti politik bagi regenerasi bangsa.

kawankitanews.web.id  — Jacob Ereste mengkritik munculnya kader politik yang dinilai lahir melalui proses instan atau “karbitan”. Ia menilai fenomena tersebut dapat memperlemah proses kaderisasi partai sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya dinasti politik yang berpotensi mengancam regenerasi bangsa.

Jacob menyampaikan pandangan tersebut dalam tulisan berjudul “Dinasti Politik dan Dinasti Kekuasaan Adalah Ancaman Bagi Bangsa dan Negara Indonesia” yang ditulis di Banten, 29 Juli 2026.

Menurut Jacob, budaya dinasti dalam partai politik dapat tumbuh ketika partai memilih jalur pragmatis untuk mempertahankan kekuasaan. Ia menilai pertimbangan efisiensi, biaya politik, keamanan, dan kenyamanan dapat mendorong partai mengambil jalan pintas dalam menentukan figur yang akan tampil dalam kontestasi politik.

Jacob menilai partai politik seharusnya tidak menjadikan kekuasaan sebagai satu-satunya tujuan. Partai perlu menjalankan fungsi pendidikan politik dan membangun kader melalui proses yang panjang, terbuka, serta berorientasi pada kapasitas.

Kritik Kemunculan Kader Karbitan

Jacob menyoroti kemunculan figur yang tiba-tiba mendapatkan posisi strategis di internal partai tanpa melalui proses kaderisasi yang memadai.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “kader karbitan” yang dapat muncul dengan label generasi muda, termasuk generasi Z, tetapi belum memiliki pengalaman politik yang cukup.

Menurut Jacob, penggunaan jargon anak muda dalam politik tidak boleh sekadar menjadi strategi untuk menarik perhatian masyarakat. Partai tetap harus membuktikan bahwa figur yang mereka tampilkan memiliki kemampuan, integritas, visi, dan pengalaman untuk menjalankan tanggung jawab politik.

Jacob khawatir jika proses tersebut terus berlangsung, partai politik justru akan membentuk budaya politik yang feodalistik. Kondisi itu dapat mempersempit kesempatan kader lain yang telah menjalani proses panjang untuk berkembang.

Partai Harus Perkuat Kaderisasi

Jacob menilai partai politik memiliki peran penting dalam mencetak pemimpin yang tangguh, rendah hati, berintegritas, dan mampu menghadapi persoalan bangsa.

Menurutnya, partai seharusnya menjadi ruang pembelajaran politik, bukan sekadar kendaraan untuk menuju kekuasaan.

Ia menilai proses kaderisasi yang sehat membutuhkan pendidikan politik, pengalaman organisasi, pemahaman terhadap persoalan masyarakat, serta pengujian kapasitas calon pemimpin secara terbuka.

Jacob mengingatkan bahwa masyarakat akan menghadapi risiko besar jika partai lebih mengutamakan popularitas atau hubungan keluarga dibandingkan kompetensi dan rekam jejak.

Dinasti Politik Bisa Melahirkan Dinasti Kekuasaan

Jacob juga menghubungkan dinasti politik dengan munculnya dinasti kekuasaan. Ia menilai konsentrasi kekuasaan pada kelompok tertentu dapat mempersempit ruang demokrasi dan meningkatkan biaya politik.

Menurut Jacob, ongkos politik yang semakin mahal dapat menciptakan tekanan bagi politisi untuk mencari sumber pembiayaan dengan berbagai cara. Dalam kondisi tertentu, ia mengkhawatirkan praktik tersebut dapat membuka peluang terjadinya korupsi.

Ia menilai persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika kekuasaan digunakan untuk mempertahankan jaringan politik sekaligus memperkuat posisi kelompok tertentu.

Karena itu, Jacob mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap dinasti politik sebagai persoalan biasa. Menurutnya, praktik tersebut dapat memengaruhi kualitas demokrasi dan menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan untuk memimpin.

Soroti RUU Perampasan Aset

Dalam tulisannya, Jacob juga menyinggung alotnya pembahasan RUU Perampasan Aset. Ia melihat regulasi tersebut penting dalam konteks pemberantasan korupsi dan penguatan efek jera terhadap pelaku tindak pidana korupsi.

Jacob menggambarkan persoalan pemberantasan korupsi sebagai masalah serius ketika institusi yang seharusnya menjaga hukum justru menghadapi persoalan internal.

Menurutnya, negara membutuhkan sistem penegakan hukum yang kuat, independen, dan konsisten agar masyarakat kembali percaya terhadap institusi hukum.

Ia menilai pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan. Negara juga perlu memperbaiki sistem politik dan tata kelola pemerintahan yang dapat membuka ruang bagi praktik korupsi.

Dorong Kesadaran Politik dan Spiritual

Jacob kemudian mendorong pembenahan kehidupan politik melalui penguatan kesadaran moral dan spiritual. Ia mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang untuk membangun budaya politik yang lebih beradab.

Menurutnya, persoalan politik, ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan kekuasaan dan kepentingan material.

Jacob berharap gerakan kesadaran tersebut dapat mendorong masyarakat kembali menghargai nilai kemanusiaan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepentingan bersama.

Ia menilai Indonesia membutuhkan generasi pemimpin yang tidak sekadar mengejar kekuasaan, tetapi mampu menjalankan amanah dengan integritas.

Bagi Jacob, memperkuat kaderisasi dan mencegah dominasi dinasti politik merupakan bagian penting dari upaya menjaga kualitas demokrasi sekaligus mempersiapkan regenerasi kepemimpinan Indonesia di masa depan.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *