kawankitanews.web.id — Jacob Ereste menggagas rekonsiliasi kebangsaan dan rekonsiliasi peradaban sebagai langkah penting untuk membangun Indonesia yang lebih manusiawi, beradab, harmonis, dan berkeadilan. Ia menilai bangsa Indonesia perlu kembali memperkuat nilai-nilai Pancasila, kemanusiaan, toleransi, etika, moral, dan akhlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jacob menyampaikan gagasan tersebut dalam paparan yang terinspirasi dari dialog informal Machfudi dari Fadli Zon Library bersama Sri Eko Sriyanto Galgendu, Pemimpin Spiritual Nusantara, di sebuah kafe di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur, 3 Agustus 2026.
Menurut Jacob, rekonsiliasi kebangsaan tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Pemerintah dan masyarakat harus menerjemahkannya melalui tindakan nyata yang mampu memperbaiki tata kehidupan berbangsa sekaligus memperkuat kepercayaan antarelemen masyarakat.
Ia menempatkan tata peradaban sebagai instrumen penting dalam membangun kehidupan bangsa yang menjunjung kemanusiaan. Karena itu, Jacob mendorong seluruh aparatur pemerintahan dan warga negara untuk memperbaiki adab serta memperkuat toleransi dalam kehidupan sosial.
Jacob menilai kerusakan etika, moral, dan akhlak dapat memicu kegaduhan serta perseteruan antaranak bangsa. Kondisi tersebut, menurutnya, hanya menguras energi masyarakat yang seharusnya dapat diarahkan untuk kegiatan yang memberikan kemaslahatan bagi bangsa dan umat manusia.
Tolak Penyalahgunaan Kekuasaan
Dalam gagasannya, Jacob juga menyoroti praktik penyalahgunaan kekuasaan serta berbagai bentuk kekerasan. Ia menegaskan bahwa siapa pun tidak sepatutnya menggunakan kekuasaan untuk melakukan tindakan yang merusak kehidupan masyarakat.
Jacob juga menolak tindakan kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat sipil maupun aparat negara. Ia menekankan pentingnya menghentikan berbagai bentuk kejahatan dan pengrusakan, baik yang berdampak pada kehidupan material maupun nilai-nilai spiritual masyarakat.
Menurutnya, setiap warga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan bersama. Kesadaran tersebut menjadi modal penting untuk membangun bangsa sekaligus merekonstruksi peradaban yang sesuai dengan falsafah negara, yakni Pancasila.
Jacob melihat Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pijakan dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, manusiawi, dan beradab.
Soroti Korupsi dan Eksploitasi Sumber Daya Alam
Jacob juga mengaitkan rekonsiliasi kebangsaan dengan persoalan korupsi dan eksploitasi sumber daya alam. Ia menilai bangsa Indonesia perlu menghentikan perilaku yang mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok dengan mengorbankan kepentingan masyarakat luas.
Ia mengingatkan bahwa korupsi dan keserakahan dalam mengelola sumber daya alam dapat memperlebar kesenjangan sekaligus melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Karena itu, Jacob mendorong rekonsiliasi kebangsaan untuk menghasilkan perubahan nyata dalam tata kelola kehidupan bernegara. Pemerintah dan masyarakat, menurutnya, harus bergerak bersama untuk mengembalikan arah pembangunan kepada tujuan kemerdekaan Indonesia.
Rekonsiliasi Harus Bangun Kepercayaan
Jacob menilai rekonsiliasi dapat menjadi sarana untuk membangun kembali kepercayaan bersama. Ia mengharapkan proses tersebut mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis, rukun, damai, dan sejahtera.
Ia juga menekankan bahwa masyarakat harus terbebas dari tekanan, penindasan, rasa tidak aman, maupun tindakan yang membatasi kemerdekaan manusia.
Dalam pandangannya, politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip bebas aktif juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun peradaban dunia yang menghormati kemanusiaan.
Jacob memandang Indonesia memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan nilai spiritual yang dapat menjadi modal untuk berkontribusi dalam membangun tata peradaban dunia yang lebih manusiawi.
Perkuat Kesatuan Bangsa
Jacob menjelaskan bahwa kebangsaan Indonesia lahir dari kesepakatan berbagai suku bangsa Nusantara untuk bersatu dalam satu identitas sebagai bangsa Indonesia. Keragaman adat, tradisi, dan budaya kemudian menjadi bagian penting dari identitas kebangsaan tersebut.
Karena itu, ia menilai Indonesia perlu menjaga kesatuan di tengah keberagaman. Masyarakat harus membangun kebersamaan dengan tetap menghormati perbedaan yang menjadi kekayaan bangsa.
Menurut Jacob, rekonsiliasi peradaban yang ingin dikembangkan dari Indonesia harus berjalan bersama dengan rekonsiliasi kebangsaan. Keduanya dapat memperkuat nilai kesetaraan seluruh suku bangsa yang telah memilih untuk hidup sebagai satu bangsa.
Ia berharap Indonesia dapat memberikan kontribusi bagi lahirnya peradaban dunia yang lebih baik, manusiawi, dan religius dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila.
Menjaga Keselarasan Kehidupan
Jacob menempatkan nilai spiritualitas sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun peradaban manusia di masa depan. Ia mengajak masyarakat tidak hanya menjaga hubungan antarmanusia, tetapi juga merawat alam dan seluruh kehidupan yang ada di bumi.
Menurutnya, manusia perlu menjaga keselarasan antara kehidupan sosial dan lingkungan. Upaya tersebut penting agar pembangunan peradaban tidak hanya mengejar kemajuan material, tetapi juga mempertahankan keseimbangan kehidupan.
Jacob berharap gagasan rekonsiliasi kebangsaan dan peradaban dapat mendorong seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama. Pemerintah dan masyarakat perlu membangun kehidupan yang lebih adil, damai, beradab, dan bermartabat.
Dengan semangat tersebut, ia berharap Indonesia mampu memperkuat cita-cita kemerdekaan sekaligus mengambil peran dalam membangun peradaban dunia yang lebih manusiawi dan saling menghormati.(Kontributor Yacob)

