22 April 2026

Kebudayaan Surabaya di Ujung Tanduk, Saatnya Perubahan Sistemik

Panggung seni di Surabaya kian sepi, mencerminkan melemahnya ekosistem kebudayaan kota.
Panggung seni di Surabaya kian sepi, mencerminkan melemahnya ekosistem kebudayaan kota.

Kawankitanews.web.id – Wajah kebudayaan di Surabaya menunjukkan tanda-tanda kemunduran serius. Kota yang dahulu dikenal sebagai ruang terbuka bagi pertumbuhan seni dan budaya kini menghadapi krisis ekosistem yang mengancam keberlanjutan para pelaku seni.

Sejumlah seniman dan pemerhati budaya menilai, Surabaya tidak lagi menyediakan ruang yang cukup bagi ekspresi kreatif.

Panggung seni semakin terbatas, sementara kesempatan tampil bagi seniman terus menurun dari tahun ke tahun.

Ruang Seni Menyusut, Kreativitas Terhambat
Pada masa lalu, Surabaya memiliki banyak ruang yang hidup sebagai pusat kebudayaan.

Kawasan seperti Taman Hiburan Rakyat (THR) menjadi jantung kesenian rakyat yang menghadirkan ludruk, ketoprak, hingga kelompok lawak legendaris Srimulat.

Selain itu, Balai Pemuda juga melahirkan musisi besar seperti Gombloh dan Leo Kristi. Ruang-ruang ini dahulu menjadi tempat tumbuhnya kreativitas lintas generasi.

Namun kini, fungsi ruang tersebut mulai meredup. Banyak fasilitas seni tidak lagi aktif secara optimal.

Seniman pun kesulitan menemukan panggung yang konsisten untuk menampilkan karya mereka.

“Dulu kami bisa tampil beberapa kali dalam setahun. Sekarang, satu kali saja sudah sulit,” ungkap salah satu pelaku seni di Surabaya.

Pendekatan Administratif Membatasi Seni
Masalah utama tidak hanya terletak pada berkurangnya ruang, tetapi juga pada perubahan cara pandang dalam pengelolaan kebudayaan.

Pemerintah dinilai lebih menekankan aspek administratif dan ekonomis dibandingkan proses kreatif.

Indikator keberhasilan kegiatan budaya kini lebih sering diukur dari sisi pendapatan daerah, bukan kualitas karya atau dampaknya terhadap masyarakat.

Akibatnya, banyak program seni kehilangan substansi.
Ketiadaan sistem kuratorial yang kuat juga memperburuk keadaan.

Tanpa kurasi yang jelas, agenda seni berjalan tanpa arah dan sulit menciptakan kesinambungan.

Peran Lembaga Budaya Melemah
Di sisi lain, peran Dewan Kesenian sebagai mitra strategis pemerintah belum berjalan maksimal.

Ketiadaan lembaga independen yang kuat membuat kebijakan kebudayaan cenderung berjalan sepihak.

Padahal, kota sebesar Surabaya membutuhkan sistem yang melibatkan banyak pihak untuk menjaga keseimbangan antara kebijakan dan kebutuhan seniman.

Potensi Besar Belum Tergarap
Sebagai ibu kota Jawa Timur, Surabaya memiliki posisi strategis sebagai titik temu berbagai kebudayaan daerah.

Keberadaan Taman Budaya Jawa Timur seharusnya mampu menjadi pusat representasi budaya dari berbagai wilayah seperti Arek, Madura, Osing, hingga Mataraman.

Namun hingga kini, potensi tersebut belum dikelola dalam sistem yang terintegrasi.

Kegiatan budaya masih berjalan parsial dan belum membentuk ekosistem yang berkelanjutan.

Dorongan Perubahan Sistemik
Pengamat kebijakan budaya menegaskan bahwa Surabaya membutuhkan perubahan sistemik, bukan sekadar penambahan program seremonial.

Pemerintah perlu membangun sistem kuratorial profesional, menyusun kalender budaya yang terjadwal,

serta menghidupkan kembali peran Dewan Kesenian sebagai mitra independen.

Selain itu, ruang seni harus difungsikan secara maksimal. Pada siang hari,

“ruang tersebut dapat menjadi laboratorium pendidikan bagi pelajar.

Pada malam hari, ruang yang sama bisa menjadi panggung pertunjukan yang terkurasi dan berkualitas.

Pendekatan ini dinilai mampu menghidupkan kembali ekosistem kebudayaan secara menyeluruh.

Membangun Disiplin Melalui Ruang Budaya
Lebih jauh, ruang seni juga dapat berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter masyarakat.

Penerapan aturan yang jelas, seperti ketepatan waktu, antrean, dan kebersihan, dapat melatih kedisiplinan warga.

Langkah ini penting karena persoalan kota seperti kemacetan dan banjir juga berakar pada rendahnya kesadaran kolektif.

Mengembalikan Jiwa Kota
Surabaya tidak kekurangan sejarah, ruang, maupun sumber daya manusia di bidang seni.

Namun tanpa perubahan cara pandang, semua potensi tersebut sulit berkembang.

Para pemerhati budaya berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menghidupkan kembali ekosistem kebudayaan.

Sebab, kota yang besar tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kekuatan jiwanya.

Jika kebudayaan terus terabaikan, maka Surabaya berisiko kehilangan identitasnya sebagai kota yang pernah hidup dari denyut seni dan kreativitas.(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *