11 Juni 2026

Soekarno dan Politik Kebudayaan: Momentum Bulan Bung Karno untuk Evaluasi Nasional

Aktivitas komunitas seni menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan kota.

kawankitanews.web.id– Peringatan Bulan Bung Karno setiap Juni kembali menguatkan diskursus publik mengenai relevansi gagasan kebudayaan yang diwariskan oleh Soekarno dalam pembangunan nasional saat ini.

Sejumlah kalangan menilai momentum ini penting untuk melakukan evaluasi terhadap arah politik kebudayaan di Indonesia.

Pemerhati budaya Meimura menilai bahwa Bung Karno tidak hanya meninggalkan warisan politik kemerdekaan, tetapi juga konsep besar tentang kebudayaan sebagai fondasi bangsa.

Ia menegaskan bahwa gagasan berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan harus dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Menurutnya, Indonesia saat ini perlu kembali menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama pembangunan, bukan sekadar pelengkap kegiatan seremonial.

Ia menilai pembangunan yang hanya berfokus pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi berisiko mengabaikan pembentukan karakter bangsa.

“Kebudayaan memberi arah nilai dan identitas. Tanpa kebudayaan, pembangunan kehilangan jiwa,” ujar Meimura dalam keterangannya.

Ia menyoroti bahwa dalam praktiknya, ruang kebudayaan di berbagai daerah masih belum mendapat perhatian yang proporsional.

Banyak komunitas seni dan budaya yang masih berjuang mempertahankan ruang ekspresi di tengah perubahan kebijakan dan prioritas pembangunan.

Di Surabaya, ia mencatat keberadaan ruang budaya seperti Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya,

serta berbagai komunitas seni lokal sebagai bagian penting dari ekosistem budaya kota.

Namun ia menilai peran ruang tersebut perlu diperkuat agar mampu menjadi pusat tumbuhnya gagasan dan kreativitas masyarakat.

Meimura mendorong pemerintah daerah untuk melibatkan pelaku budaya secara lebih aktif dalam proses perencanaan pembangunan.

Ia menilai kebijakan yang inklusif terhadap kebudayaan akan menghasilkan pembangunan yang lebih berimbang antara fisik dan karakter sosial masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh diperlakukan sebagai beban anggaran,

melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam membangun peradaban bangsa. Menurutnya,

negara yang mengabaikan kebudayaan akan kehilangan daya tahan identitas di tengah arus globalisasi.

Dalam refleksinya, ia mengajak publik untuk tidak hanya mengingat Bung Karno secara simbolik, tetapi juga memahami gagasan politik kebudayaannya secara utuh.

Ia menilai Bulan Bung Karno harus menjadi ruang evaluasi nasional terhadap sejauh mana cita-cita tersebut telah dijalankan.

“Bangsa yang besar bukan hanya menghormati sejarahnya, tetapi juga menjalankan gagasan para pendirinya,” tegasnya.

Peringatan Bulan Bung Karno pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda rutin tahunan,

“tetapi berkembang menjadi momentum nasional untuk menghidupkan kembali politik kebudayaan sebagai bagian dari arah pembangunan Indonesia.(Geng)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *