kawanindonesia.web.id – Perjalanan panjang penelusuran rumah kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, di Surabaya menyimpan kisah tersendiri bagi Ketua Komunitas Surabaya Juang, Heri Prasetyo. Bersama sejumlah pegiat sejarah, Heri Lento berupaya merawat ingatan sejarah bangsa melalui penelusuran rumah di Pandean Gang IV Nomor 40 yang kini telah menjadi Museum Rumah Lahir Bung Karno.
Heri mengaku mulai aktif menelusuri sejarah rumah kelahiran Bung Karno sejak 2009. Saat itu, Komunitas Surabaya Juang rutin menggelar diskusi kebangsaan dan memutar dokumentasi arsip nasional tentang Bung Karno di berbagai sekolah di Surabaya.
“Kami ingin generasi muda mengenal sejarah secara lebih dekat,” ujar Heri.
Dalam salah satu diskusi di SMP Negeri 1 Surabaya, seorang siswa sempat mempertanyakan informasi mengenai tempat kelahiran Bung Karno. Selama ini, buku sejarah yang dipelajari siswa menyebut Bung Karno lahir di Blitar, sementara dalam diskusi disebutkan Bung Karno lahir di Surabaya.
Peristiwa itu mendorong Heri untuk terus membuka ruang dialog sejarah kepada masyarakat. Menurutnya, sejarah harus dikaji dan dipahami secara terbuka agar generasi muda tidak kehilangan jejak perjuangan para pendiri bangsa.
Pada tahun yang sama, Heri bersama jurnalis senior Peter A. Rohi dan Ki Nurinwa mendatangi langsung rumah di Pandean Gang IV Nomor 40 untuk melakukan penelusuran sejarah lebih lanjut.
“Saya masih ingat saat pertama kali mengetuk pintu rumah itu,” tutur Heri mengenang.
Penelusuran tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang pelurusan sejarah mengenai lokasi rumah kelahiran Bung Karno. Berbagai diskusi dan seminar kemudian digelar, termasuk seminar pelurusan sejarah kota kelahiran Bung Karno di Balai Pemuda Surabaya pada 2010.
Menurut Heri, perjuangan merawat sejarah tidak hanya berkaitan dengan bangunan fisik, tetapi juga menjaga nilai perjuangan, nasionalisme, dan semangat kebangsaan agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Perjalanan itu akhirnya mencapai titik penting ketika Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya pada 12 September 2013.
Pemerintah Kota Surabaya kemudian membeli rumah tersebut pada 2020 sebelum akhirnya diresmikan menjadi Museum Rumah Lahir Bung Karno oleh Eri Cahyadi pada 2023.
Bagi Heri Lento, museum tersebut bukan sekadar bangunan sejarah, tetapi simbol perjuangan bangsa yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi penerus.
“Sejarah harus tetap hidup agar anak-anak muda memahami perjuangan dan nilai nasionalisme,” ujarnya.(Geng)

