kawankitanews.web.id – Kemajuan teknologi yang pesat membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul persoalan baru: banyak orang mulai kehilangan makna hidup di tengah dominasi nilai material dan tekanan gaya hidup modern.
Pengamat sosial, Jacob Ereste, menilai bahwa perkembangan teknologi tidak selalu diiringi dengan penguatan nilai moral dan spiritual. Ia menegaskan bahwa manusia modern kerap terjebak dalam pencapaian materi tanpa memperhatikan keseimbangan batin.
“Teknologi memudahkan hidup, tetapi tidak selalu memberi ketenangan. Banyak orang justru merasa hampa karena kehilangan arah dan makna,” ujarnya.
Menurutnya, spiritualitas menjadi solusi untuk mengembalikan keseimbangan tersebut. Ia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi spiritual yang dapat dikembangkan tanpa harus terhalang oleh perbedaan agama. Nilai-nilai keimanan dan kedekatan dengan Tuhan mampu memberikan ketenangan serta memperkuat daya tahan mental.
Sejumlah pemikir dunia juga menyoroti fenomena ini. Francis Fukuyama dalam kajiannya mengingatkan bahwa manusia bisa mengalami krisis makna setelah mencapai kepuasan material. Sementara itu, Alvin Toffler menjelaskan bahwa gelombang perubahan teknologi yang cepat dapat mengguncang tatanan sosial dan psikologis manusia.
Di sisi lain, Samuel P. Huntington pernah memprediksi potensi konflik antarperadaban akibat perbedaan nilai. Namun, pandangan tersebut mendapat kritik dari Edward Said yang menekankan pentingnya dialog dan interaksi antarperadaban sebagai jalan keluar.
Jacob menilai, di tengah berbagai pandangan tersebut, spiritualitas tetap menjadi fondasi utama yang mampu menjaga keseimbangan hidup manusia. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi seharusnya berjalan seiring dengan penguatan nilai etika, moral, dan kemanusiaan.
Ia juga menyoroti peran Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kekayaan nilai religius dan budaya. Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan dalam membangun peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga kuat secara spiritual.
“Manusia tidak boleh kehilangan jati diri. Teknologi harus menjadi alat, bukan tujuan hidup,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat mulai kembali memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, manusia tidak hanya mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman, tetapi juga tetap memiliki arah dan makna dalam menjalani kehidupan.(Kontributor banten yacob)

