9 Oktober 2026

Warga Banjarmasin Antusias Ikuti Batatamba Masal, Pataka Libatkan 30 Penamba’an

Keterangan foto: Warga mengikuti layanan batatamba masal yang digelar 30 penamba’an Pataka di Lapangan Kamboja Banjarmasin.

kawankitanews.web.id— Warga Banjarmasin antusias mengikuti layanan batatamba masal yang digelar Panambaan Tanah Kalimantan (Pataka) di Lapangan Kamboja, Jalan Anang Adenansi, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Sabtu malam (22/8/2026).

Kegiatan sosial tersebut menjadi bagian dari rangkaian pasar malam yang berlangsung hingga 29 Agustus 2026. Pataka membuka layanan batatamba mulai pukul 17.00 WITA hingga malam hari.

Sekitar 30 penamba’an yang tergabung dalam Pataka turun langsung memberikan layanan kepada masyarakat. Mereka memperkenalkan sejumlah metode batatamba tradisional, seperti pijat, totok, urut, hingga teknik yang dikenal dengan sebutan jari petir.

Suasana kegiatan semakin ramai karena masyarakat yang datang ke pasar malam juga tertarik melihat praktik batatamba tradisional. Sejumlah warga bahkan mencoba langsung metode yang diperagakan para penamba’an.

Warga Coba Metode Jari Petir

Salah seorang warga, Mahyudin, datang untuk mencoba metode jari petir. Warga Jalan Gerilya, Banjarmasin Selatan, itu mengaku baru pertama kali mengikuti metode tersebut.

“Saya baru pertama kali mencoba jari petir. Waktu disentuh, terasa sampai ke bagian yang sakit,” ujar Mahyudin.

Mahyudin mengatakan sebelumnya ia merasakan keluhan pada bagian kaki dan belakang tubuh. Setelah mengikuti layanan tersebut, ia mengaku tubuhnya terasa lebih nyaman dan keluhan yang dirasakan menjadi lebih ringan.

Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat salah satu tradisi batatamba yang masih berkembang di Kalimantan Selatan.

Pataka Kenalkan Beragam Metode

Sekretaris Pataka, Arif Riduan, mengatakan jari petir menjadi salah satu metode yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut. Para penamba’an juga menyediakan metode lain, seperti pijat, totok, dan urut.

“Jari petir ini salah satu metode yang kami gunakan. Sentuhan dilakukan pada bagian tertentu, dan peserta biasanya merasakan sensasi pada area yang dikeluhkan,” ucap Arif.

Selain menggunakan teknik sentuhan, para anggota Pataka juga memperagakan batatamba menggunakan api. Metode tersebut menarik perhatian pengunjung yang berada di sekitar lokasi.

Arif menjelaskan Pataka menaungi para terapis dan penamba’an tradisional dengan kemampuan yang beragam. Mereka memanfaatkan kegiatan sosial tersebut untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat.

“Ilmu yang dimiliki anggota kami cukup beragam. Karena itu, kami mencoba membagikannya kepada warga melalui kegiatan sosial seperti ini,” jelasnya.

Tidak Menetapkan Tarif Khusus

Arif mengatakan Pataka tidak menetapkan tarif khusus bagi warga yang mengikuti layanan batatamba masal. Masyarakat dapat mengikuti kegiatan tersebut tanpa biaya yang ditentukan.

“Ini kegiatan sosial, jadi tidak ada patokan biaya. Kalau masyarakat ingin memberikan secara sukarela, kami terima,” ujarnya.

Menurut Arif, masyarakat menyampaikan berbagai keluhan ketika mengikuti layanan tersebut, mulai dari sakit kepala, tubuh terasa pegal, hingga keluhan pada saraf dan gangguan lainnya.

Pataka berharap kegiatan tersebut tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga memperkenalkan tradisi batatamba kepada generasi yang lebih luas.

Di tengah ramainya pasar malam, layanan batatamba masal menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian warga. Masyarakat dapat menyaksikan sekaligus mengenal berbagai metode pengobatan tradisional yang berkembang di Banua.

Melalui kegiatan itu, Pataka juga berupaya menjaga keberadaan pengetahuan batatamba tradisional Kalimantan Selatan agar tetap dikenal dan mendapat ruang di tengah masyarakat.(Herman)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *