8 Oktober 2026

Prof Fasli Jalal Apresiasi Kemajuan Al-Azhar Diniyyah Jambi, Dorong Lulusan Adaptif Hadapi Era AI

Keterangan foto: Prof. Fasli Jalal saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda Al-Azhar Diniyyah Jambi.

kawankitanews.web.id  — Prof. Dr. Fasli Jalal, Sp.GK., Ph.D., mengapresiasi perkembangan STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi. Ia juga mendorong para lulusan untuk terus meningkatkan kemampuan dan beradaptasi menghadapi perubahan dunia kerja, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pesan tersebut disampaikan Prof. Fasli saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda Sarjana Angkatan XIV STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi dan Angkatan X STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (15/8/2026).

Prof. Fasli yang menjabat Penasehat Ahli Menteri Agama Republik Indonesia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga perlu membangun karakter dan kemampuan beradaptasi.

Apresiasi Peran Al-Azhar Diniyyah Jambi

Dalam orasinya, Prof. Fasli memberikan apresiasi terhadap perjalanan STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi dalam menjalankan fungsi pendidikan.

Ia mendorong kedua perguruan tinggi tersebut terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan dunia kerja.

Menurut Prof. Fasli, perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang tetap relevan ketika mereka memasuki dunia profesional. Perubahan teknologi menuntut institusi pendidikan untuk terus melakukan pembaruan.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari jumlah sarjana yang dihasilkan. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang dapat menggunakan ilmu untuk bekerja, berkarya, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Wisuda Bukan Akhir Pendidikan

Prof. Fasli mengawali orasi dengan memberikan penghargaan kepada para orangtua yang telah mendukung perjalanan pendidikan para wisudawan.

Ia menilai keberhasilan mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi tidak terlepas dari dukungan keluarga. Orangtua telah memberikan waktu, biaya, perhatian, pikiran, serta doa hingga anak-anak mereka mencapai jenjang sarjana.

Namun, Prof. Fasli meminta para wisudawan tidak menjadikan gelar akademik sebagai tujuan akhir.

“Kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi merupakan awal untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya,” pesannya.

Menurutnya, setelah meninggalkan kampus, para lulusan akan menghadapi situasi yang berbeda. Mereka harus mengambil keputusan secara mandiri, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab atas pilihan yang mereka buat.

Karena itu, ia mendorong para sarjana keluar dari zona nyaman dan menyusun roadmap kehidupan. Mereka juga perlu membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat atau lifelong learner.

AI Mengubah Dunia Kerja

Prof. Fasli kemudian menyoroti perkembangan AI yang semakin memengaruhi dunia kerja.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuat sejumlah jenis pekerjaan berubah. Keterampilan yang relevan saat ini belum tentu tetap relevan dalam beberapa tahun mendatang.

Karena itu, para lulusan perlu terus memperbarui pengetahuan dan mengembangkan kemampuan baru. Mereka tidak boleh hanya mengandalkan ijazah sebagai modal memasuki dunia kerja.

Prof. Fasli mendorong lulusan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan masalah.

Ia juga meminta lulusan tidak memandang AI hanya sebagai ancaman. Mereka dapat menggunakan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat pekerjaan, dan menciptakan berbagai peluang baru.

Namun, Prof. Fasli mengingatkan bahwa manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak mudah digantikan teknologi, seperti empati, kepedulian, integritas, akhlak, dan kemampuan membangun hubungan antarmanusia.

Karena itu, ia mendorong para lulusan menguasai teknologi tanpa kehilangan karakter dan nilai kemanusiaan.

Hadapi Bonus Demografi

Selain perkembangan teknologi, Prof. Fasli mengingatkan para wisudawan mengenai bonus demografi Indonesia.

Jumlah penduduk usia produktif yang besar dapat menjadi kekuatan pembangunan apabila generasi muda memiliki kualitas pendidikan, kesehatan, etos kerja, dan karakter yang kuat.

Menurutnya, generasi muda perlu memanfaatkan peluang tersebut untuk membangun masa depan bangsa. Para lulusan perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui profesi, inovasi, pendidikan, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan generasi produktif agar mampu menghadapi perubahan struktur penduduk Indonesia pada masa mendatang.

Tiga Bidang Pendidikan Punya Peran Strategis

Prof. Fasli memberikan perhatian khusus terhadap tiga bidang pendidikan yang menjadi bagian dari STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Bahasa Inggris, serta Pendidikan Islam atau Ilmu Tarbiyah.

Ia menyebut pendidikan anak usia dini sebagai investasi penting bagi masa depan bangsa. Lulusan PAUD memiliki peran membangun fondasi perkembangan, kecerdasan, dan karakter anak sejak usia dini.

Sementara itu, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris memiliki peluang membuka akses komunikasi dan pengetahuan ke tingkat global. Di tengah perkembangan AI, mereka perlu menggabungkan kemampuan bahasa dengan komunikasi, empati, kreativitas, dan kemampuan membangun relasi.

Adapun lulusan Pendidikan Islam atau Ilmu Tarbiyah memiliki tanggung jawab membangun generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga iman, takwa, dan akhlak mulia.

Ketiga bidang tersebut memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan anak membangun fondasi generasi, bahasa membuka akses komunikasi global, sedangkan pendidikan Islam memberikan landasan nilai.

Dorong Lulusan Terus Beradaptasi

Apresiasi dan pesan Prof. Fasli menjadi bekal penting bagi para lulusan Al-Azhar Diniyyah Jambi sebelum memasuki dunia kerja dan masyarakat.

Para sarjana kini menghadapi dunia yang bergerak cepat. Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan pekerjaan, serta dinamika sosial menuntut mereka terus belajar dan beradaptasi.

Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal penting selain kompetensi akademik. Lulusan juga perlu menjaga integritas, mengembangkan kemampuan bekerja sama, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Wisuda Angkatan XIV STKIP dan Angkatan X STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi akhirnya tidak hanya menjadi perayaan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Momentum tersebut menjadi titik awal bagi para sarjana untuk mengamalkan ilmu dan menghadapi dunia yang terus berubah.

Dengan ilmu, karakter, kemampuan beradaptasi, dan semangat belajar sepanjang hayat, para lulusan diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan AI sekaligus mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap karya dan pengabdian.(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *