Kawankitanews.web.id– Jalan spiritual tidak selalu harus dijalani dengan penuh ketegangan dan beban berat. Sebaliknya, pendekatan yang ringan, santai, dan penuh kegembiraan justru dinilai mampu membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan secara alami dan berkelanjutan.
Pemikiran ini disampaikan oleh Jacob Ereste dalam refleksinya tentang laku spiritual yang diibaratkan seperti olahraga pagi. Ia menegaskan, seseorang dapat menempuh jalan spiritual dengan cara sederhana, tanpa tekanan, namun tetap konsisten dalam menjaga kualitas batin.
Menurutnya, laku spiritual pada dasarnya merupakan bentuk “olah batin” yang bertujuan menjaga keteguhan diri dalam menghadapi berbagai godaan hidup. Dengan batin yang terlatih, seseorang mampu memilah antara hal yang baik dan buruk, serta menghindari tindakan yang tidak bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
“Jalan spiritual bukanlah sesuatu yang harus terasa berat. Ia bisa dijalani seperti rutinitas ringan yang menyehatkan, selama dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan,” tulisnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesederhanaan dan tanggung jawab moral. Dalam praktiknya, seseorang tidak hanya dituntut menghindari perbuatan buruk, tetapi juga berperan aktif dalam mencegah kemungkaran di lingkungan sekitarnya.
Konsep amar ma’ruf nahi munkar disebutnya sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan spiritual manusia. Prinsip ini mengajarkan pentingnya mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan, sebagai wujud tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Selain itu, refleksi spiritual juga diperkuat melalui pendekatan kultural. Ia mengaitkan laku spiritual dengan karya Taufiq Ismail yang menggambarkan kehidupan sebagai “sajadah panjang” yang terbentang sejak langkah pertama hingga akhir hayat.
Makna ini menegaskan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual formal, tetapi mencakup seluruh perjalanan hidup manusia.
Pendekatan spiritual yang ringan namun konsisten ini dinilai relevan dengan kondisi masyarakat modern yang kerap dihadapkan pada tekanan hidup.
Dengan menjadikan spiritualitas sebagai bagian dari rutinitas yang menyenangkan, individu dapat menjaga kesehatan batin
sekaligus memperkuat nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pemahaman ini, jalan spiritual tidak lagi dipandang sebagai beban,
melainkan sebagai kebutuhan dasar manusia untuk menjaga keseimbangan hidup, baik secara pribadi maupun sosial.

