Kawankitanews .web .id— Pesamuan Agung Raja Wali yang mempertemukan para Putra Wayah Ndalem Wali dan Sunan di wilayah pesisir utara Jawa Tengah menyampaikan maklumat tentang pentingnya persatuan dan kepemimpinan yang teguh, tegak, serta tegas.
Maklumat tersebut disampaikan Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang dikenal sebagai Sri Eka Sapta Wijaya, saat menjadi pembicara utama dalam Gebyar Budaya Nusantara di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Sri Eko mengajak masyarakat Indonesia bergandeng tangan sebagai satu kesatuan anak bangsa. Ia menilai persatuan menjadi modal penting untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara sekaligus menghadapi berbagai tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
“Maklumat khusus untuk Presiden Prabowo Subianto agar teguh, tegak dan tegas,” ujar Sri Eko dalam pesannya.
Ia menjelaskan, sikap teguh berarti Presiden Prabowo harus menjalankan tanggung jawab dengan sabar serta melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Sementara itu, sikap tegak mengandung pesan agar Presiden tetap lurus dalam menjaga kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Sri Eko juga menekankan pentingnya menjaga kepentingan Indonesia agar tetap kuat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Adapun sikap tegas, menurut Sri Eko, berkaitan dengan keberanian mengambil kebijakan dan menegakkan keadilan sebagai kepala negara sekaligus negarawan.
Maklumat tersebut disertai persembahan doa dan ditandatangani Sri Eko Sriyanto Galgendu. Pesamuan Agung Raja Wali berlangsung di Kudus yang memiliki jejak sejarah penting dalam perkembangan spiritual dan budaya Jawa.
Soroti Kondisi Aceh
Beberapa hari setelah maklumat tersebut, Sri Eko turut menanggapi peristiwa yang terjadi di Aceh pada Sabtu (15/8/2026). Ia menilai aksi yang berkaitan dengan perusakan lambang negara dan penurunan bendera Merah Putih perlu mendapat perhatian serius dari seluruh elemen bangsa.
Sri Eko mengajak seluruh pihak menahan diri dan mengutamakan pendekatan persuasif untuk menjaga Aceh tetap aman, damai, dan kondusif. Ia mendorong pemerintah dan masyarakat membangun komunikasi bersama tokoh agama, pemuka adat, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.
Menurutnya, berbagai persoalan yang menjadi pemicu ketegangan di Aceh perlu diselesaikan melalui dialog dan kebijaksanaan. Pemerintah juga perlu mendengarkan aspirasi masyarakat agar dapat menemukan solusi terbaik demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Peristiwa yang terjadi di Masjid Raya Baiturrahman dan di Pendopo Gubernur Aceh Darussalam harus menjadi perhatian segenap elemen bangsa untuk menjaga keutuhan dan soliditas bangsa dan negara Indonesia,” katanya melalui sambungan telepon.
Soroti Gempa NTT
Selain kondisi Aceh, Sri Eko juga menyoroti gempa yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Ia meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap penanganan dan pemulihan masyarakat yang terdampak bencana.
Ia menilai pemerintah perlu bergerak cepat memberikan bantuan dan memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi.
Sri Eko kembali menekankan pentingnya persatuan dan kepedulian seluruh elemen bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan. Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi kekuatan penting untuk menjaga Indonesia tetap aman, damai, dan sejahtera.
Maklumat yang disampaikan dalam Pesamuan Agung Raja Wali di Kudus itu pun menjadi seruan untuk memperkuat persatuan sekaligus mendorong kepemimpinan nasional yang teguh dalam tanggung jawab, tegak dalam membela kepentingan bangsa, dan tegas dalam menjalankan kebijakan serta keadilan.(Kontributor Yacob)

