7 Oktober 2026

Konflik Memanas di Weda Tengah : Petani Blokir Jalan Tambang PT. Halmahera Sukses Mineral, Tuntut Ganti Rugi Lunas

 KawankitaNews Web .id

WEDA TENGAH, 6 Oktober 2026
– Kesabaran warga lingkar tambang di Halmahera Tengah habis. Masyarakat dan kelompok penggarap lahan di wilayah Hutan Sakaulen melakukan aksi pemalangan total terhadap jalan produksi (hauling road) milik PT. Halmahera Sukses Mineral (HSM), Selasa (6/10/2026).

Aksi blokade ini bukan tanpa alasan. Warga mengambil langkah tegas setelah perusahaan nikel tersebut diduga menyerobot dan menggusur lahan garapan masyarakat secara sepihak untuk kepentingan operasional tambang, tanpa menyelesaikan kewajiban ganti rugi pembebasan lahan.

Alat berat perusahaan dilaporkan tidak bisa melintas. Akses logistik tambang lumpuh total.

“Ini adalah jalan terakhir kami. Kami sudah tempuh jalur diplomasi, sudah komunikasi formal berkali-kali dengan manajemen, tapi tidak pernah ada titik temu yang adil. Lahan kami digusur, uang ganti rugi tidak dilunasi,” tegas salah satu perwakilan penggarap di lokasi pemalangan.

Dari lapangan, konflik ini mengerucut pada tiga poin krusial:

1. GANTI RUGI MACET, DIPLOMASI BUNTU
Warga dari desa-desa lingkar tambang di Weda Tengah menegaskan, pemalangan adalah akumulasi kekecewaan. Perusahaan dinilai ingkar janji. Lahan sudah dieksekusi untuk jalan hauling, namun hak warga belum dibayar lunas.

2. LAHAN HISTORIS DIKLAIM PERUSAHAAN
Warga membantah klaim lahan kosong. Kawasan Hutan Sakaulen yang kini menjadi jalan tambang tersebut, menurut warga, telah dikelola secara turun-temurun sebagai sumber pencaharian pertanian dan perkebunan jauh sebelum perusahaan masuk.

3. SOROTAN PELANGGARAN LINGKUNGAN
Aksi ini kian memanaskan sorotan publik terhadap legalitas PT. HSM. Perusahaan tersebut sebelumnya diterpa isu serius terkait dugaan pembukaan kawasan hutan lindung secara ilegal untuk pembangunan jalan hauling dan dugaan manipulasi perizinan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT. Halmahera Sukses Mineral belum memberikan keterangan resmi. Warga menyatakan akan tetap bertahan dan tidak akan membuka palang sampai perusahaan melunasi seluruh ganti rugi dan menunjukkan legalitas pembukaan hutan Sakaulen secara transparan kepada publik.

Situasi di lokasi dilaporkan masih tegang namun kondusif.

Red/”Bung”

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *