8 Oktober 2026

KARANG TARUNA TUNAS HARAPAN LUKULAMO MENGUCAPKAN HUT KE-27 MALUKU UTARA

   KawankitaNews Web .id

LUKULAMO, WEDA TENGAH, 4 OKTOBER 2026
— Hari ini, tanggal 4 Oktober 2026, genap 27 tahun berlalu sejak Provinsi Maluku Utara resmi berdiri sendiri sebagai daerah otonom. Dua puluh tujuh tahun yang lalu, tepat pada tanggal yang sama di tahun 1999, lahirlah harapan baru di bumi ini: harapan agar kekayaan alam yang melimpah di tanah ini diurus oleh anak bangsanya sendiri, agar kemakmuran kembali ke rakyat yang sejak lama menanam, memelihara, dan menjaga tanah ini.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, Karang Taruna Tunas Harapan dari Desa Lukulamo, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, turut serta memperingati hari bersejarah ini bukan sekadar dengan ucapan selamat, melainkan dengan renungan mendalam dan seruan tegas kepada seluruh pemangku kepentingan di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat.

UCAPAN PENUH HARAPAN, SERUAN PENUH TANGGUNG JAWAB

Melalui pernyataan resminya hari ini, Karang Taruna Tunas Harapan menyampaikan:

“Selamat memperingati HUT Provinsi Maluku Utara yang ke-27. 4 Oktober 1999 hingga 4 Oktober 2026. Dua puluh tujuh tahun adalah usia kedewasaan. Usia di mana seseorang sudah mampu berdiri tegak, menentukan arah hidupnya sendiri, dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia pilih. Demikian pula dengan provinsi kita.”

Tema yang diangkat dalam peringatan kali ini “TUMBUHNYA HARUS TERASA” bukanlah slogan yang dibuat-buat. Ia lahir dari kenyataan yang kami lihat setiap hari, dari kesenjangan yang kami rasakan langsung di kampung halaman kami sendiri.

MAKNA PERTUMBUHAN YANG BUKAN HANYA ANGKA

Pertama, tema ini mengandung pesan tentang Pertumbuhan Nyata. Selama ini, laporan kemajuan pembangunan kerap menyajikan angka-angka yang membanggakan: pendapatan daerah meningkat, investasi masuk, produksi tambang melonjak tinggi. Namun pertanyaan yang kami ajukan dengan jujur dan lantang adalah: apakah rakyat di pelosok desa turut merasakannya ?

Di Desa Lukulamo dan kampung-kampung sekitarnya, pertumbuhan yang sesungguhnya belum sepenuhnya terasa. Masih ada jalan yang rusak saat musim hujan. Masih ada warga yang berjuang mendapatkan air bersih saat kemarau panjang. Masih ada pemuda yang cerdas dan berilmu namun kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak di tanah kelahirannya sendiri. Masih ada lahan yang subur dan kaya raya, namun pemilik aslinya hidup sederhana bahkan serba kekurangan.

Itulah makna “Pertumbuhan Nyata” yang kami maksud: kemajuan tidak boleh hanya terlihat di atas kertas, di rapat-rapat, atau di berita-berita resmi. Ia harus terasa di perut, di dompet, di rumah, di sekolah, dan di setiap jengkal kehidupan rakyat kecil. Jika angka naik tetapi kesejahteraan rakyat diam di tempat, maka itu bukan kemajuan itu hanya pencatatan yang tidak jujur.

KOLABORASI BUKAN PILIHAN, MELAINKAN KEWAJIBAN

Kedua, tema ini mengandung semangat Kolaborasi. Maluku Utara tidak bisa maju jika berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah kabupaten dan provinsi harus bersinergi, bukan saling melemahkan. Perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di wilayah kami termasuk di Weda Tengah dan sekitarnya harus menyadari bahwa keberadaan mereka di sini bukan sekadar mengambil keuntungan, melainkan bagian dari komunitas yang wajib ikut membangun dan menyejahterakan warga sekitar.

Kekayaan yang dikelola harus dikembalikan dalam bentuk kerja nyata: lapangan kerja bagi putra daerah, pelatihan keterampilan, pembangunan fasilitas umum, kepedulian terhadap lingkungan yang dijaga bersama. Rakyat pun harus bersatu saling memperkuat, tidak saling memecah belah, menjaga persaudaraan sebagai modal paling berharga yang dimiliki Maluku Utara.

Kolaborasi berarti: semua pihak memikul beban yang sama, dan semua pihak menikmati hasil yang sama pula. Tidak boleh ada yang menanggung kerugian sendirian sementara yang lain meraup keuntungan sendirian. Itu bukan keadilan, dan itu tidak akan bertahan lama.

27 TAHUN: SAATNYA HASIL TURUN KE BAWAH

Dua puluh tujuh tahun adalah waktu yang cukup panjang. Cukup untuk membuktikan apakah kemerdekaan otonomi daerah ini benar-benar membawa perubahan bagi rakyatnya. Kami para pemuda sebagai penerus yang akan mewarisi bumi ini menyampaikan pesan yang tegas:

Kami bangga menjadi bagian dari Maluku Utara. Kami mencintai tanah ini. Namun rasa cinta kami tidak membuat kami buta. Kami melihat apa yang ada, dan kami berani mengatakan apa yang kurang.

Kepada Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, serta seluruh pemangku kepentingan dan mitra usaha: Jangan biarkan Maluku Utara kaya di peta, namun miskin di kehidupan nyata. Jangan biarkan anak-anak kampung pergi jauh demi mencari nafkah, padahal di kampung sendiri kekayaan melimpah ruah.

Mari kita buktikan bahwa pertumbuhan yang dimaksud bukan sekadar ukuran dari atas, melainkan rasa yang dirasakan dari bawah. Rakyat yang sejahtera, adil, dan berkelanjutan itulah tujuan berdiri daerah ini. Dan tujuan itu belum tercapai sampai setiap warga merasakannya.

TUMBUH BERSAMA, BERKEMBANG BERSAMA

Karang Taruna Tunas Harapan berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari solusi. Kami akan terus belajar, terus berkarya, dan terus bersuara bukan untuk menggugurkan kewajiban orang lain, melainkan untuk mengingatkan kita semua: pembangunan Maluku Utara adalah tanggung jawab kita bersama.

Selamat ulang tahun yang ke-27, Maluku Utara. Tumbuhlah bukan hanya lebih tinggi, melainkan lebih merata. Berkembanglah bukan hanya lebih cepat, melainkan lebih adil. Dan pastikanlah: setiap langkah kemajuan yang kau ambil, dirasakan oleh semua anakmu tanpa terkecuali.

Red/”BUNG”

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *